Pengungsi Suriah Pelaku Serangan Penikaman di Austria Berubah Jadi Radikal Lewat TikTok
JAKARTA - Pengungsi Suriah berusia 23 tahun yang membunuh seorang remaja dan melukai lima orang lainnya dalam aksi penikaman akhir pekan di kota Villach, Austria, menjadi radikal dengan cepat karena menggunakan TikTok.
Tersangka bernama Ahmad G., memiliki bendera kelompok militan ISIS di apartemennya tetapi sebelumnya tidak pernah menarik perhatian pihak berwenang Austria.
Kasus ini menyoroti tantangan untuk mencegah apa yang disebut serangan lone wolf, yaitu ketika penyerang bertindak sendiri tanpa bantuan dari luar.
Radikalisasi online yang dilakukannya menarik perhatian lebih lanjut ke platform media sosial seperti TikTok yang dapat menawarkan sejumlah besar konten kepada pengguna mengenai subjek yang diminati, yang menurut beberapa ahli dapat mempercepat keterlibatan mereka di dalamnya.
“Dia meradikalisasi dirinya sendiri dalam waktu tiga bulan,” kata juru bicara jaksa di kota terdekat Klagenfurt, tempat penyelidikan sedang dilakukan, kepada Reuters dilansir Senin, 17 Februari.
"Tidak lewat orang lain, kontak personal baik online maupun langsung. Ternyata, dia memang hanya mencerna video dan memutuskan melakukan perbuatan tersebut. Tidak ada orang lain yang mengatakan 'Lakukan!'," ujarnya.
"Dia sendiri yang membenarkannya dan mengatakan dia menonton video dan kemudian memutuskan ingin bergabung dengan ISIS,” sambung juru bicara kejaksaan.
TikTok, dalam postingan tahun 2022 di situsnya mengatakan pihaknya berkomitmen untuk menemukan solusi dan bekerja dengan "masyarakat sipil dalam memerangi ekstremisme kekerasan".
Serangan di Austria terjadi hanya beberapa hari setelah seorang warga Afghanistan berusia 24 tahun menabrak kerumunan orang di Munich di negara tetangga Jerman, menewaskan dua orang dan melukai puluhan lainnya.
Jaksa penuntut Munich Gabriele Tilmann mengatakan tampaknya ada motif radikalisme.
Baca juga:
- Spanyol Respons Dingin Tawaran Inggris soal Pengerahan Pasukan Perdamaian ke Ukraina
- Pria India yang Perkosa dan Bunuh Perempuan Irlandia Dipenjara Seumur Hidup
- 7 Drone Ukraina Hantam Stasiun Pompa Pipa Minyak Chevron, Kyiv Berdalih Putus Pasokan ke Militer Rusia
- Israel Pertahankan Pasukan di Lima Lokasi di Lebanon Lewati Batas Waktu Penarikan Militer
Polisi mengatakan tersangka Villach menggunakan pisau lipat untuk menyerang dan merekam dirinya bersumpah setia kepada ISIS, dan menyebut tujuannya adalah untuk ditembak mati oleh polisi. Sebaliknya, dia ditangkap beberapa menit setelah warga Suriah lainnya membantu menghentikannya.
Fot tersangka beredar luas, menunjukkan dia duduk di jalan sambil tersenyum ketika seorang petugas polisi menghadapnya beberapa saat setelah serangan itu.
Tersangka diyakini tiba di Austria pada tahun 2019, kata juru bicara kantor kejaksaan, dan ingin melanjutkan perjalanan ke Jerman dengan identitas palsu agar pihak berwenang Jerman tidak menolaknya sebagai pemohon suaka karena sudah berada di negara ketiga yang aman, Austria.
Juru bicara Kementerian Dalam Negeri Austria mengatakan tersangka menghabiskan empat hari dalam tahanan di Jerman pada Mei tahun lalu karena tidak mampu membayar denda karena memalsukan dokumen, namun tidak mengatakan jenis dokumen apa itu.