One Action One Tree Lestarikan Lingkungan dan Berdayakan Para Petani di Kudus

KUDUS - Kesadaran untuk menjaga lingkungan dalam beberapa tahun terakhir semakin meningkat di masyarakat. Melihat hal ini, Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) melalui gerakan Siap Sadar Lingkungan (Siap Darling) kembali menyelenggarakan #OneActionOneTree (OAOT), yang sudah dimulai sejak 2020.

Gerakan digital yang bersifat tahunan ini mengonversi aktivitas sehari-hari individu seperti lari, bersepeda, dan bermedia sosial menjadi bibit multi purpose tree species (MPTS) seperti mangga, alpukat, petai dan durian. Setengah dekade berselang, dampak dari gerakan #OAOT semakin signifikan bagi pelestarian alam dan peningkatan kesejahteraan petani, khususnya di Desa Gondoharum, Patiayam, Kudus, yang menjadi penerima bibit.

Program OAOT di Desa Gondoharum ini terus dilakukan, dan pada Rabu, 5 Februari 2025, ditandai dengan penanaman bibit baru berjumlah 26 ribu bibit di Bukit Patiayam. Pemberian fasilitas lainnya juga dilakukan dan diharapkan berdampak baik bagi para petani setempat.

“Kami juga membantu dengan mengadakan pelatihan dan pendampingan kepada para petani, dan pemberian bibit hasil dari kegiatan #OAOT ini diharapkan dapat berdampak panjang bagi petani. Maka itu, dalam inaugurasi kali ini, BLDF memberikan bantuan 26.000 bibit serta sarana dan prasarana seperti gazebo kepada Kelompok Tani Wonorejo,” kata Director Communications Djarum Foundation Mutiara Diah Asmara, di Kudus, Jawa Tengah, pada Rabu, 5 Februari 2025.

Selain berdampak pada ekonomi dan sosial, penanaman bibit pohon tersebut juga dapat membantu pencegahan bencana alam yang bisa saja terjadi akibat lingkungan yang rusak.

“Selama empat tahun ini hasilnya maksimal, bukan berdampak ekonomi dan sosial, tapi juga menghindari bencana alam. Adanya tanaman keras bisa memperbaiki struktur tanah yang ada,” tambahnya.

Ketua Kelompok Tani Wonorejo, Mashuri, yang memprakarsai penanaman bibit di lahan gundul menyampaikan bahwa program One Action One Tree sangat berdampak baik bagi mereka. Lingkungan yang sehat mencegah terjadinya bencana dan meningkatkan perekonomian warga setempat.

“Saya tergerak menanami desa kami agar terhindar dari bencana, mengingat lahan hutan di dekat desa kami tinggal 10 persen yang memiliki tanaman keras sehingga rentan longsor. Sejak 2020, kami berkolaborasi dengan BLDF yang memberikan bantuan bibit untuk menanam dengan sistem tumpang sari agar bernilai ekonomi. Alhamdulillah, setelah lima tahun merawat, kami mulai memanen mangga hingga 30 ton tahun lalu,” ungkap Mashuri.

Sementara itu, selama 2021 sampai 2023, menurut data BPS 2024, Provinsi Jawa Tengah konsisten menjadi produsen mangga terbesar kedua di level nasional, dengan rata-rata produksi sebesar 512.914,3 ton per tahun. Adapun Kabupaten Kudus, pada 2023, menempati posisi ke-20 di tingkat provinsi dengan 6.840,9 ton, yang diharapkan akan semakin meningkat di tahun ini dengan penanaman baru yang dilakukan.