Cadangan Devisa Turun 1,7 Miliar Dolar AS, Pejabat BI: Buat Bayar Utang Jatuh Tempo Pemerintah

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) menyebut bahwa cadangan devisa pada akhir Maret 2021 adalah sebesar 137,1 miliar dolar AS.

Catatan tersebut menurun jika dibandingkan dengan penutupan Februari 2020 yang sebesar 138,8 miliar dolar AS.  Artinya terdapat penurunan sekitar 1,7 miliar dolar AS dalam kurun waktu satu bulan kalender.

“Cadangan devisa tetap tinggi meskipun menurun dibandingkan dengan posisi Februari,” ujar Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono dalam keterangan pers, Rabu, 4 April.

Menurut dia, penyusutan instrumen transaksi mancanegara itu disebabkan oleh pemenuhan kewajiban kepada pihak asing.

“Penurunan posisi cadangan devisa pada Maret 2021 terutama dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah sesuai pola jatuh tempo pembayarannya,” tutur dia.

Meskipun demikian, nilai cadangan devisa pada saat ini masih dalam taraf memadai. Asumsi tersebut berdasarkan komparasi kecukupan pembiayaan 10,1 bulan impor atau 9,7 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

“Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan,” tegasnya.

“Ke depan, Bank Indonesia memandang cadangan devisa tetap memadai, didukung oleh stabilitas dan prospek ekonomi yang terjaga, seiring dengan berbagai respons kebijakan dalam mendorong pemulihan ekonomi,” sambung dia.

Sebelumnya, VOI sempat memberitakan bahwa posisi cadangan devisa pada awal Februari 2021 mengalami lonjakan menjadi Rp138,8 miliar dolar AS dari sebelumnya yang sebesar 138 dolar AS per Januari 2021.

“Peningkatan posisi cadangan devisa pada Februari 2021 terutama dipengaruhi oleh penarikan pinjaman pemerintah dan penerimaan pajak,” kata Erwin Jumat, 5 Maret.