LEMIGAS Turut Bantu Kejar Produksi Migas Nasional secara Signifikan

JAKARTA - Kepala LEMIGAS Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Mustafid Gunawan menyampaikan institusinya turut membantu mengejar target produksi minyak dan gas bumi nasional secara signifikan.

Menurut dia, saat ini, pemerintah masih menjaga asa untuk memenuhi target produksi minyak sebesar satu juta barel per hari pada 2030, yang salah satu caranya adalah dengan menggunakan teknologi yang tepat.

"Sebagai unit pengujian minyak dan gas bumi di bawah Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, kami telah turut andil memberikan pelayanan jasa terbaik untuk sektor hulu migas melalui pemrosesan data seismik 2D maupun 3D," ujar Mustafid dalam keterangannya di Jakarta, dikutip dari Antara, Kamis 28 Maret.

Ia mengatakan perkembangan teknologi saat ini semakin pesat, sehingga berdampak positif terhadap metode pencitraan bawah tanah dengan ditemukannya metode seismik 3D atau tiga dimensi.

"Pencitraan yang dilakukan di bawah permukaan dengan teknologi seismik 3D akan menghasilkan gambar lebih baik dan sangat informatif yang akan mempermudah menginterpretasikan hasil seismik," jelasnya.

Mustafid juga mengungkapkan teknologi seismik 3D telah diterapkan dan digunakan oleh ahli-ahli geologi Indonesia untuk mengeksplorasi ada atau tidaknya cadangan minyak di bawah tanah.

Teknologi tersebut sudah pula diimplementasikan oleh LEMIGAS sebagai upaya pencarian cadangan migas.

LEMIGAS, kata dia, memberikan layanan jasa pemrosesan data seismik 2D dan 3D baik dalam PSTM (domain time) maupun PSDM (domain kedalaman).

Saat ini, LEMIGAS pun sedang melakukan pekerjaan pemrosesan data seismik 3D Blok Rokan dengan luas total 1.216 km2 yang terdiri atas data seismik 3D PSTM dan PSDM area Pager-Sidingin dengan luas 876 km2.

Kemudian, data seismik 3D PSTM dan PSDM area Ubi-Sikladi dengan luas 127 km2 serta data seismik 3D PSTM dan PSDM area Bangko dengan luas 213 km2.

Masing-masing data seismik tersebut, katanya, akan digabung (merge) untuk mendapatkan gambaran bawah permukaan yang lebih terintegrasi.

"Mengingat data yang diproses tersebut cukup besar dan harus diproses dengan waktu yang seefisien mungkin, maka LEMIGAS memiliki infrastruktur (perangkat keras) parallel computing hingga 1.024 thread," ujar Mustafid.

Selain untuk pekerjaan pemrosesan data seismik, perangkat keras tersebut juga digunakan untuk pekerjaan seismic quantitative interpretation, yang berbasis machine learning, deep learning, dan geostatistical.

Mustafid menambahkan metode seismik telah banyak membantu dalam menentukan titik pemboran dan eksplorasi migas.

Walaupun jebakan struktural makin sulit ditemukan, lanjutnya, namun metode seismik akan lebih berperan dalam bentuk pemetaan stratigrafis, fracture reservoir, dan bentuk-bentuk lainnya di Indonesia.

Mustafid juga menyebutkan beberapa pekerjaan pemrosesan data seismik yang telah dilakukan antara lain data seismik 2D PSTM area Bose-West Timor; data seismik 2D PSTM area Peri Mahakam; data seismik 2D PSTM area Sangkar, Jawa Timur; data seismik 2D PSTM area Bone, Sulawesi Selatan; dan data seismik gabungan 2D dan 3D PSTM area Tarakan, Kalimantan Utara.