PM Netanyahu Akui Israel dan Amerika Serikat Berbeda Soal Pemerintahan Gaza Pascaperang
JAKARTA - Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengakui adanya perbedaan pendapat mengenai apa yang akan terjadi setelah perang di Gaza dengan Amerika Serikat, kendati mengakui Israel mendapat dukungan Washington untuk menghancurkan Hamas dan membebaskan seluruh sandera.
Mengulangi penolakannya di masa lalu untuk menyetujui kembalinya pemerintahan Otoritas Palestina yang didukung Barat di bawah Presiden Mahmoud Abbas (Kelompok Fatah) ke Gaza, Netanyahu mengatakan dalam sebuah pernyataan, Gaza "tidak akan menjadi stan Hamas atau 'Fatah-stan'".
"Saya ingin memperjelas posisi saya: Saya tidak akan membiarkan Israel mengulangi kesalahan Oslo," kata PM Netanyahu tanpa menjelaskan kesalahan mana yang dia maksud, melansir Reuters 13 Desember.
Oslo yang dimaksud PM Netanyahu adalah Perjanjian Oslo tahun 1993. Perjanjian itu menetapkan otonomi terbatas Palestina di Tepi Barat dan Gaza.
Pada Hari Selasa, Sekretaris Jenderal Komite Eksekutif Organisasi Pembebasan Palestina Hussein Al-Sheikh menanggapi laporan perbandingan Perjanjian Oslo dengan serangan Hamas 7 Oktober yang dilakukan oleh PM Netanyahu.
Baca juga:
- Tok! Sidang Majelis Umum PBB Sepakati Resolusi Gencatan Senjata Segera di Gaza, Ditolak Amerika Serikat dan Israel
- WHO Sebut Cacar Air hingga Infeksi Saluran Pernapasan Atas Menyebar di Gaza
- Kudeta Militer Sebabkan Warga Bertani Opium, Myanmar Kini Jadi Pemasok Terbesar di Dunia Gantikan Afghanistan
- Pasien Kritis Meninggal Akibat Tertahan Pemeriksaan Israel, Kepala WHO: Masyarakat Gaza Berhak Akses Layanan Kesehatan
"Pernyataan Benjamin Netanyahu yang menyamakan Perjanjian Oslo dengan apa yang terjadi pada 7 Oktober menegaskan perangnya terhadap seluruh warga Palestina," kata Al-Sheikh.
"Kami mengatakan kepada Netanyahu bahwa Oslo tewas di bawah serangan tanknya, menyapu kota, desa dan kamp kami dari Jenin hingga Rafah," tandasnya.