Dalam Dunia Pendidikan Guru Boleh Menghukum Murid, tapi Harus Tepat Sasaran

JAKARTA – Memberikan hukuman kepada murid dengan cara memukul dan mencubit dulu mungkin sudah menjadi hal lumrah. Sebab beberapa guru beranggapan, dengan cara dipukul murid menjadi lebih patuh dan enggan mengulangi kesalahan.

Namun sekarang, pola pemberian hukuman dalam dunia pendidikan telah jauh berubah. Memukul tidak lagi dianggap sebagai solusi mengatasi kenakalan, justru menjadi perilaku negatif dalam upaya mendidik.

Misi pendidikan adalah memperbaiki dan menumbuh kembangkan murid, bukan merusak. Itulah mengapa, fokus hukuman juga adalah memperbaiki perilaku, bukan untuk membalas dendam dan menjadikan anak sebagai objek pelampiasan emosi.

Tak heran, bila orangtua saat ini langsung bereaksi keras ketika ada guru yang masih menerapkan hukuman dengan cara memukul. Banyak kasus orangtua yang melaporkan guru ke polisi, bahkan ada orangtua yang membalas langsung, menghukum guru dengan cara sama seperti yang dilakukan terhadap anaknya.

Seperti yang terjadi di SD Negeri 13 Paguyaman, Gorontalo belum lama ini. Orangtua murid menggunting paksa rambut guru karena tidak terima anaknya diperlakukan hal yang sama.

Beberapa siswa SMAN 1 Awang, Barito Timur, Kalimantan Tengah dihukum push up karena kedapatan berjudi domino pada 1 Februari 2018. (Antara/Polsek Bartim)

Praktisi pendidikan dari Universitas Negeri Makassar, Abdullah Pandang menilai menghukum memang memiliki efek negatif. Banyak para tokoh tidak merekomendasikan tindakah hukuman sebagai bagian dari tindakan pendidikan. Namun sebenarnya, menghukum itu boleh sebagai salah satu opsi yang bisa dipilih untuk memperbaiki perilaku murid. Asal sesuai syarat dan ketentuan.

“Ibaratnya seperti mengonsumsi obat keras. Harus sesuai resep, tidak boleh sembarangan. Kalau sembarangan, bukannya menyehatkan malah memperburuk keadaan,” kata Abdullah seperti dikutip dari akun YouTube Ruang Belajar Abdullah Pandang.

Demikian pula hukuman, kalau cara menghukumnya tidak sesuai dengan resep maka hasilnya akan berdampak buruk, jauh dari harapan sebenarnya. Mungkin murid tidak lagi mengulangi kesalahan, tetapi dalam jangka panjang hukuman bisa merusak hal-hal lain yang ada dalam diri murid.

Contoh ketika murid menggunakan alat tulisnya untuk mencoret-coret meja. Dia ingin berkreasi menunjukkan eksistensinya. Guru marah dan langsung memukul. Murid memang akan belajar untuk tidak mencoret meja lagi. Namun, hukuman itu juga mematikan daya kreasinya.

“Jadi memang harus hati-hati benar, justru yang banyak kerugiannya adalah memudarnya tingkah laku positif yang menyertai tingkah laku negatif. Itu sebabnya, dalam psikologi pendidikan, tidak semua hukuman boleh dilakukan,” kata Abdullah.

Resep Menghukum

Ada beberapa petunjuk yang bisa menjadi resep, seperti menghukum harus sesuai dengan bagian perilaku anak yang salah dan bukan menghukum keseluruhan pribadi anak. Fokuslah hanya pada kesalahan anak.

Lalu, hukuman harus setara dan selaras dengan kesalahan. Kalau kesalahannya mengotori lantai, hukuman cukup meminta murid mengepel lantai, tidak perlu ada tambahan tempeleng, tendangan, atau hujatan yang menyakitkan hati.

“Tambahan hukuman itu tidak selaras namanya, bukan hukuman mendidik. Justru itulah yang menjadikan anak dan keluarganya merespon dengan cara yang tidak diharapkan juga oleh kita, misalnya melapor ke polisi. Salah resep, harusnya 2x1 jadi 3x1,” tutur Abdullah.

Hukuman juga harus dilakukan segera setelah terjadinya kesalahan sehingga, murid akan lebih mengerti alasan mengapa dia mendapat hukuman. Serta, harus adil, konsisten, dan tidak pandang bulu.

Guru dan orangtua adalah fondasi utama pendidikan anak, keduanya harus mampu berkolaborasi demi memberikan pendidikan terbaik. (Statistik Sektoral Provinsi DKI Jakarta)

“Guru harus pastikan menghukum dalam suasana tenang, dengan niat semata demi memperbaiki anak. Jangan menjatuhkan hukuman saat marah. Tidak ada pendidikan dengan emosi marah. Pendidikan itu dengan penalaran, keputusan-keputusan kita menghukum berdasarkan pertimbangan, bukan dengan emosi,” jelasnya.

Setelah menjatuhkan hukuman, jangan meninggalkan murid dalam keadaan bingung atau kecewa. Sediakan waktu untuk bicara dari hati ke hati.

“Supaya anak memahami apa yang sebenarnya terjadi, mengapa dia dihukum, untuk apa dia dihukum, karena kalau ini tidak disadari berarti hukuman tidak efektif,” ucap Abdullah.

Inilah yang menjadi esensi. Menurutnya, “Menghukum memang kadang-kadang diperlukan sebagai bagian untuk mengajari anak bahwa tidak semua tingkah lakunya boleh.”

Orangtua Bijak

Di sisi lain, tidak hanya para guru, orangtua pun harus lebih bijak dalam bersikap, terutama dalam menanggapi keluhan-keluhan anaknya di sekolah. Sebab, guru dan orangtua sejatinya adalah fondasi utama pendidikan anak. Keduanya harus seirama, intens menjalin komunikasi demi kemajuan pendidikan.

Riduan Situmorang mengakui kasus orangtua melaporkan guru ke polisi atau datang ke sekolah dengan emosi marah karena tak terima perlakuan guru memang sudah sering terjadi.

Namun, menurut dia, umumnya karena misinformasi. Orangtua tidak menerima informasi secara utuh kejadian yang sebenarnya karena hanya bersumber dari pengakuan anak yang kadang menceritakan secara berlebihan.

“Pada posisi seperti inilah kiranya dibutuhkan kerja sama dan komunikasi yang intensif antara pihak sekolah dan orangtua. Bagaimana pun, di zaman yang canggih ini, tidak hanya teknologi yang cepat berkembang, tetapi juga bibit-bibit keburukan, bahkan kejahatan,” kata guru SMAN 1 Doloksanggul-Humbang Hasundutan, Sumatera Utara ini dalam tulisannya di di Kompas bertajuk ‘Keseiramaan Guru dan Orangtua’.

Bibit-bibit itu sudah merasuki generasi saat ini melalui teknologi digital. Anak-anak sekarang bukan lagi seperti anak-anak dahulu yang masih gampang diarahkan.

Murid-murid boleh saja dihukum namun harus tepat sasaran, agar mereka tidak kehilangan semangat dan keceriaan untuk bersekolah. (Antara/Jojon/hp)

Tengok perilaku para murid yang sempat viral di sosial media beberapa waktu lalu. Ada seorang siswi kelas 5 Sekolah Dasar (SD) di Kota Ternate memukuli teman sekelasnya seperti tengah menangkap maling. Kabarnya hanya karena tidak memberikan contekan saat ulangan.

Lalu, sejumlah pelajar di Tapanuli Selatan yang iseng menendang seorang nenek. Bahkan, tanpa rasa berdosa, mereka tertawa saat si nenek jatuh duduk di pinggir jalan. Ini menjadi pembuktian, anak-anak sekarang bukan lagi sosok yang polos.

“Percayalah, jika orangtua cenderung seperti mengancam guru yang menegur siswa nakal, sangat mungkin guru tak akan peduli lagi pada siswa tersebut,” kata Riduan.

Bila itu yang terjadi, apa yang mau diharapkan dari pendidikan? Menurut Riduan, “Hanya dengan kerja sama kita bisa mendisiplinkan murid yang kini sedang diracuni oleh polusi kejahatan.”