Ekonom Indef: Pemerintah Harus Tetap Waspada, Krisis Global Bisa Menjalar ke Indonesia

JAKARTA - Ekonom Indef Dzulfian Syafrian mengingatkan pemerintah harus tetap waspada, karena permasalahan global bisa menjalar ke Indonesia.

Meskipun, Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) mengatakan, Indonesia adalah titik terang di tengah-tengah kesuraman ekonomi dunia.

Dzulfian mengatakan, ketika global menurun, dampak ke Indonesia biasanya memang tidak separah negara yang lain.

Khususnya negara-negara yang memang terintegrasi dengan perdagangan internasional.

"Di sisi lain, Indonesia yang masih mengandalkan perekonomian domestik relatif diuntungkan dengan kondisi global yang suram ini tapi bukan tidak mungkin permasalahan global bisa menjalar ke Indonesia," katanya dikutip Kamis, 20 Oktober.

Permasalahan ekonomi dunia yang dimaksud antara lain, perdagangan internasional, pelemahan ekspor dan terhambatnya impor, dan juga dari sektor keuangan, seperti gejolak mata uang, pasar modal dan pasar surat utang.

Dzulfian mengatakan gejolak di pasar keuangan ini akan menyebabkan fluktuasi. Kata dia, volatilitas juga menjadi semakin membesar yang membuat ketidakpastian menjadi lebih tinggi.

"Alhasil, perekonomian akan terhambat karena para aktor ekonomi (baik produsen dan konsumen) akan menunda keputusan ekonominya (jual-beli, simpan-pinjam, invest, dan lainnya). Ujung-ujungnya perekonomian nasional akan melambat," jelas Dzulfian.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Segara Institute Piter Abdullah Redjalam menilai capaian ekonomi Indonesia dan apresiasi dari IMF akan memperbesar peluang modal asing masuk ke Indonesia.

"Testimoni IMF bahwa perekonomian Indonesia kuat bertahan bisa meningkatkan kepercayaan global dan hal ini diharapkan membantu masuknya modal asing ke Indonesia dan semakin memperkuat perekonomian Indonesia," kata Piter.

Menurut Piter, resiliensi ekonomi Indonesia bertumpu pada konsumsi domestik yang diperkirakan terus membaik.

Selain itu, Indonesia juga tidak terlalu bergantung pada ekspor.

Hal ini menjadikan Indonesia relatif lebih bisa bertahan dari gejolak ekonomi global dibanding negara lain yang bertumpu pada ekspor.

"Indonesia berbeda dengan negara-negara yang terlalu bertumpu kepada ekspor. Perekonomian Indonesia lebih bertumpu kepada konsumsi domestik yang diperkirakan akan membaik seiring meredanya pandemi," ungkapnya.

Meski Indonesia tidak bertumpu pada ekspor, Piter menerangkan ekonomi Indonesia juga terbantu dari tingginya harga komoditas di pasaran internasional, utamanya komoditas.

"Resesi global tentu akan menahan atau bahkan menurunkan harga komoditas tetapi tidak membuat harga komoditas jatuh. Masih akan tetap cukup tinggi dan menguntungkan Indonesia yang mengandalkan komoditas," tegasnya.

Menurut Piter, kondisi Indonesia sampai saat ini masih cukup baik dan diyakini mampu bertahan menghadapi resesi global. Bahkan ekonomi Indonesia masih bisa tumbuh di atas 5 persen.

"Kalaupun Indonesia terdampak oleh resesi global, diperkirakan hanya membuat pertumbuhan ekonomi kita melambat tidak bisa mencapai target di atas 5 persen. Itu skenario buruknya. Skenario terbaiknya kita masih bisa tumbuh diatas 5 persen," pungkasnya.

Sebelumnya, IMF mengoreksi outlook pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2023 menjadi 2,7 persen dari sebelumnya yang diprediksi sebesar 2,9 persen pada Juli lalu.

Saat ini disebutkan, ada 28 negara yang meminta bantuan dari IMF.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, Indonesia patut waspada dengan The Perfect Storm, namun tetap optimis melihat perekonomian yang terus tumbuh.

"Ekonomi Indonesia pun mampu tumbuh sebesar 5 persen selama tiga kuartal terakhir, dan di kuartal ketiga dan keempat kita juga berharap pertumbuhannya bisa mencapai target 5,2 persen," katanya.

Menurut Airlangga, ketahanan Indonesia juga tercermin dari beberapa indikator yang tetap positif, seperti konsumsi dan investasi.

PMI manufaktur juga tercatat mencapai 53,7 di September 2022, serta kredit perbankan yang masih tumbuh 10 persen di Juni 2022.

"Dari segi resiliensi eksternal, neraca transaksi berjalan dan perdagangan mencatatkan surplus. Januari hingga Agustus neraca perdagangan surplus 35 miliar dolar AS. Demikian pula cadangan devisa dan rasio utang yang berada pada level aman," pungkas Airlangga.