Golkar Klaim Airlangga Capres yang Disenangi Jokowi, CISA: Karena Menteri Ekonomi di Kabinet

JAKARTA - Ketua DPP Partai Golkar Emanuel Melkiades Laka Lena mengklaim Ketua Umumnya Airlangga Hartarto masuk dalam tiga daftar nama calon presiden yang disenangi Presiden Joko Widodo.

Tiga nama tersebut, yakni Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Menteri Pertahanan Prabowo Subianto, dan Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto.

Terkait hal itu, Direktur Eksekutif Centre for Indonesia Strategic Actions (CISA) Herry Mendrofa, menilai alasan Airlangga menjadi salah satu dari tiga nama bacapres yang disenangi Jokowi lantaran merupakan menteri di Kabinet Indonesia Maju. 

"Jelas karena Airlangga adalah menteri dari kabinet Jokowi. Kedua adalah faktor ketua umum partai Golkar yang hingga hari ini solid mendukung Jokowi," ujar Herry, Kamis, 8 September. 

Faktor lainnya, yakni isu ekonomi yang menjadi fokus pemerintahan Jokowi. Sedangkan saat ini Airlangga menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Perekonomian.

"Ketiga, adalah isu-isu ekonomi yang menjadi isu sentral dan menjadi fokus dari pemerintahan Jokowi. Kebetulan juga menterinya atau pimpinannya adalah Airlangga," sebutnya.

Menurut Herry, persoalan ekonomi menjadi salah satu alasan kecenderungan Jokowi pada Airlangga yang diprediksi maju sebagai capres di Pemilu 2024. Di sisi lain, isu ekonomi juga tengah menjadi sorotan saat pandemi hingga sekarang kenaikan bahan bakar minyak (BBM).

"Ketiga ini menjadi faktor kesukaan Jokowi sekaligus juga menjadi faktor yang, menurut saya, menjadi evaluasi tersendiri bagi Airlangga. Karena isu ekonomi per hari ini adalah isu yang nyentrik, populis di kalangan masyarakat, karena bersinggungan dengan realita yang terjadi di masyarakat terutama konteksnya adalah kenaikan harga BBM," ungkapnya.

Meski dinilai berkinerja bagus sebagai Menko Perekonomian dengan kemampuan dalam pengendalian inflasi dan menjaga pertumbuhan ekonomi Indonesia di kala pandemi, Airlangga juga mendapati sejumlah persoalan utamanya terkait kenaikan harga BBM.

"Kalau klaim jelas bahwa pertumbuhan ekonomi di tengah pandemi COVID-19 agak naik dan bertahan di angka yang cukup baik di antara negara-negara lain, tapi di kondisi internal, gejolak di dalam masyarakat," tambahnya.

Kemudian, hasil survei Indikator Politik Indonesia juga memperlihatkan bahwa mayoritas warga tidak setuju terhadap kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Kenaikan harga BBM juga menunjukkan adanya kontras dalam kinerja ekonomi Indonesia. Hal itu, kata Herry, akan berimbas pada elektabilitas Airlangga. 

"Jadi imbasnya ke elektabilitas Airlangga sebagai menko perekonomian. Di satu sisi memang, secara data, sukses dalam pertumbuhan ekonomi di tengah pandemi COVID-19. Tapi di sisi lain kenaikan harga BBM ini pasca-pandemi. Artinya ada waktu, yang menurut saya, akan menjadi kontras karena sebelum dan sesudah begitu kontras sekali," pungkas Herry. 

​​​​​​​