Memahami Perspektif Kurir Sepeda sebagai Kekuatan Budaya setelah Ikutan 'Ngurir' bersama Rider Westbike Messenger Service

JAKARTA - Matahari luar biasa terik. Panasnya memberi tusukan-tusukan kecil di sekujur kulit. Kami bersama Arvy Kheren Laurence, mengemasi sejumlah paket ke dalam tas messenger hijau miliknya. Perjalanan ngurir sepanjang siang itu, Rabu, 23 September menyadarkan kami bahwa pekerjaan Arvy adalah gambaran kecil namun krusial untuk merefleksikan besarnya budaya bersepeda di Indonesia, bahkan sebelum pandemi memaksa banyak toko sepeda menguras gudangnya.

Arvy adalah kurir sepeda di Westbike Messenger Service. Westbike adalah perusahaan yang merintis model bisnis ekspedisi tanpa mesin berminyak di Indonesia. Seluruh mesin di Westbike bertenagakan otot, napas, dan otak. Kami sadar betul pentingnya tiga hal itu.

Arvy, rider Westbike Messenger Service (Irfan Meidianto/VOI)

[Klik untuk Menambah Rasa]

Perjalanan kami mulai dari rumah kontrakan Arvy di wilayah Senopati, Jakarta Selatan. Waktu menunjukkan pukul 11.14 WIB, ketika Arvy keluar pagar dengan sepeda Liberty abu-abunya. Tujuan kami adalah Paviliun 71, sebuah kedai kopi di Jalan Pelita Abdul Majid, Cipete Utara, Jakarta Selatan. Arvy langsung melaju usai berdiskusi singkat menentukan rute yang akan kami lalui bersama.

Arvy sangat cepat. Sepeda fixed gear-nya dibetot tanpa gerakan melambat. Merujuk pengukur kecepatan, rata-rata kecepatan 40 kilometer terus bertahan sepanjang kami melintasi Senopati, Lapangan Blok S, hingga berbelok ke arah Mampang. Kemampuan Arvy membuat kami kewalahan. Jawaban soal kemampuan Arvy menarik sepedanya terjawab kelak.

Kami makin kewalahan ketika melewati Jalan Mampang Prapatan Raya. Arvy membelah jalanan dengan lincah, mengisi baris-baris kosong lalu lintas. Sesekali Arvy melakukan teknik skid --menggelincirkan ban-- untuk mengakali pengereman mendadak. Arvy benar-benar lihai mengendalikan Liberty tunggangannya. Di Mampang, kami kehilangan Arvy.

Arvy memeragakan teknik skid (Irfan Meidianto/VOI)

Sepeda Arvy sudah digantung ketika kami tiba di Paviliun 71. Di dalam, ia tengah berbincang dengan rekannya, seorang barista bernama Gayuh. Seperti Arvy, Gayuh juga bekerja sebagai kurir sepeda di luar waktunya bekerja sebagai barista. Keduanya bekerja di perusahaan berbeda, namun tinggal di satu rumah kontrakan bersama kurir-kurir sepeda lain.

Secara ekosistem, kurir sepeda memiliki ikatan kuat antara satu dan lain. Ikatan di lingkaran mereka mengembangkan ikatan-ikatan lain di sekitar ekosistem. Seperti paket biji kopi yang akan kami antar ke Antasari ini. Gayuh mengirimkan paket biji kopi ini kepada rekannya, Roy, pemilik bengkel sepeda House of Pista, Jakarta.

Arvy mengantarkan paket kepada Roy (Irfan Meidianto/VOI)

Bayangkan lingkaran suportif ini: kurir sepeda (Arvy) mengantarkan paket biji kopi yang dibeli seorang pemilik bengkel sepeda (Roy) dari seorang kurir sepeda yang juga bekerja sebagai barista (Gayuh).

Sistem saling dukung itu terbangun tanpa kesepakatan. Barangkali seperti yang Arvy katakan kepada kami, bahwa orang-orang akan menyadari keunggulan kurir sepeda ketimbang kurir lain ketika mencobanya.

Rehat sejenak di House of Pista, kami melanjutkan perjalanan ke daerah perkantoran di Jalan Jenderal Sudirman. Ada satu paket yang rencananya akan kami kirim ke sebuah gedung di wilayah itu. Matahari belum meredup. Siang hari sekitar pukul 14.30 WIB tak jauh berbeda dengan pukul 12-an ketika kami beranjak dari Paviliun 71 menuju House of Pista.

Di perjalanan, kami bertemu dengan Bokir, rekan Arvy di Westbike yang kebetulan baru menyelesaikan antarannya. Berbincang sebentar, Bokir memutuskan ikut kami. Namun, pengiriman itu batal di tengah perjalanan, ketika kami menepi di Jalan Trunojoyo, sekitar Gedung Mabes Polri untuk mengonfirmasi proses pengiriman.

Sang pengirim paket menyatakan kantornya tutup. Memang, hari itu telah memasuki pekan kedua Gubernur Anies Baswedan menetapkan periode kedua PSBB ketat. Pengirim paket sepakat menunda pengiriman. Tujuan kami pun berpindah ke drop point Westbike yang juga kontrakan tempat Arvy dan kawan-kawan tinggal. Perjalanan kami berakhir di sana sekitar pukul 15.30 WIB.

Tim VOI dalam perjalanan bersama Arvy dan Bokir, rider Westbike Messenger Service (Irfan Meidianto/VOI)

Kurir dan budaya sepeda

Westbike Messenger Service adalah pelopor dari model bisnis kurir sepeda modern di Ibu Kota. Sebelum Westbike, di masa-masa lampau, PT Pos Indonesia adalah satu-satunya perusahaan ekspedisi yang menggunakan kurir sepeda sebagai tenaga pengantar utama mereka.

Didirikan oleh Hendi Rachmat dan Duenno Ludissa tahun 2013, Westbike terus berkembang. Berawal di Jakarta, kini layanan Westbike telah mencapai sejumlah kota lain, seperti Surabaya, Medan, Bandung Kota, dan Bandung Selatan.

Secara prinsip, kurir Westbike dibagi ke dalam dua tim: Intracity dan JNE. Tim Intracity memiliki tugas untuk melakukan jemput-antar barang berdasar pemesanan aplikasi ponsel, Westbike Courier. Intracity memiliki cakupan di seluruh DKI Jakarta. Layanan ini biasa juga disebut dengan layanan Area dengan biayar Rp15 ribu. Dulu, layanan ini dikenal dengan VIP, yang berbiaya Rp25ribu.

"Intracity itu dia seluruh area Jakarta. Jadi, kayak lu, misalnya pickup di Jakarta Selatan, di daerah sini, nanti lu nganter ke Lebak Bulus. Nanti dari Lebak Bulus, pickup lagi dari Fatmawati, nanti nganternya ke Pasar Minggu. Itu sameday service," kata Arvy.

Selain layanan Area, Intracity juga bertanggung jawab atas layanan Inter Area, servis khusus dengan batas waktu paket sampai ke tangan penerima dalam waktu dua jam. Biaya yang harus dikeluarkan konsumen adalah Rp20 ribu. Dahulu layanan ini dinamakan VVIP dengan biaya Rp50 ribu. Bagi kurir, layanan ini adalah pertaruhan. Jika kurir berhasil memenuhi tuntutan waktu, kurir akan mendapat bonus dobel. Sebaliknya, jika waktu dua jam terlewati, kurir tak mendapat bonus dari perjalanannya.

Tim kedua, JNE. Tim ini biasanya diisi oleh kurir senior. Arvy menjelakan alur kerja tim JNE-nya. Jadi, setiap harinya seorang kurir Westbike yang menggunakan sepeda kargo akan mengambil pasokan paket JNE dari gudang JNE di Jalan Veteran, Bintaro, Pesanggrahan, Jakarta Selatan. Paket itu akan dibawa ke drop point di Senopati, Jakarta Selatan. Dari drop point, barulah paket diantar oleh kurir ke masing-masing area.

Sebelum pandemi, Arvy dan kawan-kawan biasa mengantar 80 hingga seratus paket per hari. Namun, pandemi menghancurkan pendapatan mereka.

"Semenjak pandemi turun langsung. Sehari cuma 30. Nyari gocap saja susah. Setengah mampus. Kacrut. Soalnya gua lebih ke kantoran sih nganternya. Sama mal," tambah dia.

Arvy mendaftar di Westbike pada Maret 2016. Ia menemukan iklan lowongan kerja sebagai kurir sepeda di Westbike dari Twitter. Hobi bersepeda mengantar Arvy ke jalan hidup 'ngurir'. Di mata Arvy, kurir sepeda adalah bagian tak terpisahkan dari budaya bersepeda di dunia. Kurir sepeda adalah bagian kecil. Namun perkembangan kurir sepeda --secara bisnis ataupun sosial-- membawa begitu banyak dampak bagi budaya bersepeda itu sendiri. Pun bagi dirinya.

Arvy menggantungkan laju sepedanya pada sebuah truk (Irfan Meidianto/VOI)

Dunia mengenal Cycle Messenger World Championship (CMWC) sebagai 'lebarannya' kurir sepeda dunia. CMWC adalah kejuaraan tahunan, di mana kurir sepeda dari seluruh dunia berkumpul sekaligus berkompetisi memperebutkan gelar juara dunia kurir sepeda. CMWC digelar untuk mengedukasi warga dunia tentang keberadaan kurir sepeda di antara mereka.

Indonesia sendiri jadi salah satu negara paling maju dalam budaya ini. Sejak kemunculan Westbike, Indonesia kini telah memiliki 52 komunitas kurir sepeda yang tersebar di 35 kota se-Indonesia, dengan jumlah kurir mencapai dua ratusan orang. Bahkan Indonesia jadi negara Asia Tenggara pertama yang menjadi tuan rumah CMWC.

Bagi Arvy secara pribadi, karier sebagai kurir sepeda membawanya mendalami budaya sepeda lebih dalam. Memang, sebelum menjadi kurir sepeda, Arvy telah lebih dulu hanyut dalam tren fixed gear di sekitar 2011-2012. Namun, dari karier 'ngurir', Arvy mencapai tahapan yang lebih jauh.

Arvy tak cuma berhasil memenuhi hasrat. Bersama sepeda, Arvy juga sukses melesat ria dalam dunia balap. Arvy merinci sejumlah kejuaraan yang pernah ia menangi: HolyCrit di Singapura, Selangor Criterium di Malaysia, hingga Saigon Criterium di Vietnam.

"Di Singapura itu gua sempat juara dua. Di Malaysia gua juara tiga. Di Vietnam itu gua masuk sepuluh besar. Terus, di Bandung kesatu. Sering beberapa event, tuh. Terus pernah kedua. Di Jakarta sering juga."

Arvy gagal mengingat seluruh tahun dan lintasan kejayaannya. Namun, yang jelas namanya harum. Buktinya, Liberty yang siang kemarin ia kendarai. Dalam satu tahun belakangan Arvy dikontrak dengan produsen merek Malaysia itu, mebawanya ke tahap yang lebih tinggi lagi.

Jurnalisme Rasa Lainnya