Pabrik Tesla Jadi Target Serangan Cyber Rusia

JAKARTA - Pabrik Tesla Inc yang berlokasi di Nevada menjadi target serangan siber. Elon Musk telah melaporkan serangan kepada Federal Bureau of Investigation (FBI).

Meski telah berhasil digagalkan namun CEO Tesla dan SpaceX Elon Musk merasa cukup kesal atas serangan siber tersebut. Menurutnya ini adalah aksi yang cukup serius. 

"Ini adalah serangan yang serius," kicau Elon Musk, seperti dikutip Reuters, Jumat, 28 Agustus. 

Mengutip pernyataan resmi Teslarati, kasus penyerangan siber ini terjadi ketika seseorang tak dikenal mencoba untuk menerobos jaring keamanan miliki Tesla. Pelaku bahkan sempat memanipulasi salah seorang pegawai Tesla yang bekerja di Gigafactory Nevada, AS. 

Pelaku diketahui bernama Egor Igorevich Kriuchkov itu berencana untuk menanamkan virus malware ke dalam piranti lunak milik perusahaan pembuat mobil listrik itu. Bila berhasil malware berjenis DDoS itu memungkinkan peretas untuk mengekstrak dokumen perusahaan dan jaring keamanan milik Tesla. 

"Pelaku sempat menawarkan uang sogokan sebesar 1 juta dolar AS kepada pegawai Tesla untuk memasukkan malware ke dalam sistem," tulis Departemen Kehakiman AS.

Pihak Tesla lantas berkoordinasi dengan FBI untuk menggagalkan aksi serangan dan menangkap pelaku. Berbekal chat di media sosial WhatsApp dengan salah satu pegawai Tesla, Kriuchkov ditangkap pada 22 Agustus di Los Angeles dalam upayanya untuk melarikan diri.

"Tujuan dari persekongkolan tersebut adalah untuk merekrut seorang karyawan dari sebuah perusahaan untuk secara diam-diam mengirimkan malware untuk mengekstrak data dan mengancam perusahaan untuk membayar tebusan," ungkap Jaksa Pengadilan Distrik AS.