JAKARTA- Perang Amerika Serikat-Israel dan Iran yang tak kunjung berakhir, bukan hanya mempengaruhi situasi geopolitik tapi juga perekonomian secara global. Penyebabnya tak lain adalah penutupan Selat Hormuz yang merupakan jalur distribusi minyak dunia oleh Iran. Indonesia juga tak luput dari dampak tersendatnya pasokan minyak di Selat Hormuz.
Sehingga kita harus mencari alternatif sumber energi, selain energi fosil. Beberapa alternatif bahan bakar dan transisi energi. Beberapa bahan bakar alternatif apa yang bisa menggantikan BBM konvensional dan bagaimana strategi transisi energi agar bisa berjalan tanpa ada gejolak di Indonesia.
Di tengah lonjakan harga minyak mentah dunia yang berpotensi menembus 150 dolar AS per barrel, bukan lagi sekadar skenario ekstrem, melainkan ancaman nyata bagi negara pengimpor energi seperti Indonesia. Bahkan pada akhir Maret 2026 harga minyak sudah sempat menyentuh kisaran 116–118 dolar AS, dan pemerintah menjadikannya momentum untuk mempercepat transisi energi.
Jika harga benar-benar mencapai 150 dolar, tekanan terhadap APBN akan sangat besar karena setiap kenaikan 1 dolar dapat akan menambah beban subsidi dan kompensasi energi sekitar Rp8–10 triliun. Dalam konteks inilah, gagasan Presiden Prabowo Subianto untuk melakukan konversi kendaraan berbahan bakar fosil menuju kendaraan listrik menjadi semakin relevan secara ekonomi, bukan hanya lingkungan.
Berbagai “Bahan Bakar Alternatif dan Strategi Transisi Energi Indonesia di tengah ancaman kenaikan Harga minyak mencapai 150 Dolar AS”. Bahan Bakar Alternatif dan Transisi Energi menjadi jalan Indonesia keluar dari jerat BBM mahal.
Sejauh ini Indonesia telah merancang jalan alternatif, untuk menanggulangi BBM konvensional dan melepas ketergantungan impor. Dan bagaimana strategi transisi energi agar bisa berjalan tanpa ada gejolak di Indonesia.
Menteri Keuangan Republik Indonesia, Purbaya Yudhi Sadewa bersama Menko Perekonomian Airlangga Hartarto telah menyampaikan periode kali ini pemerintah akan memutuskan tidak ada kenaikan harga minyak terutama jenis pertalite dan harga solar.
Menteri Keuangan Purbaya, dalam acara dengar pendapat dengan DPR mengatakan saat ini, Menurutnya saat ini Kementerian Keuangan, fokus pada stabilitas ekonomi, pengelolaan APBN, dan memastikan subsidi BBM tetap aman hingga akhir tahun 2026, di tengah fluktuasi harga minyak global. "Ia meyakini, harga tidak akan melampaui harga Rp 100 dollar hingga akhir tahun, kalua pun naik masih bisa dicover oleh APBN, jadi harga tidak akan dinaikan harga".
Menteri Keuangan Purbaya, didepan Panja DPR menyatakan pemerintahnya tidak akan menaikan Harga BBM bersubsidi. Pemerintah masih memiliki bahan bakar alternatif pengganti BBM Konvensional seperti pertalit dan minyak solar. Indonesia sebenarnya memiliki beberapa opsi bahan bakar alternatif yang realistis untuk menggantikan bahan bakar bensin dan solar yang umum digunakan.
Ekonom Senior Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menyatakan menyambut baik keputusan tidak menaikan BBM. Meski dakui itu keputusan sifatnya jangka pendek, untuk sementara.

Menurutnya pemerintah telah mengeluarkan delapan butir Transformasi Budaya Kerja sebagai upaya penghematan energi sekaligus efisiensi anggaran APBN, di tengah meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz hingga ancaman penutupan Bab el-Mandeb. Situasi ini bukan sekadar kenaikan harga minyak, mengganggu distribusi, hingga memaksa banyak negara mengambil langkah darurat.
Bahkan sejumlah negara tetangga Indonesia telah memutuskan mengambil kebjakan untuk menaikan harga BBM. Bahan Bakar Alternatif, antara lain akan dijalankan program turunan dengan memanfaatkan tanaman sawit, singkong dan tebu, yang bisa diubah menjadi menjadi bioetanol.
1) Kendaraan listrik / Electric Vehicle (EV)
Ini menjadi tulang punggung strategi jangka panjang. Mobil, motor, hingga kendaraan logistik dapat dikonversi bertahap ke listrik. Keunggulannya untuk mengurangi impor BBM, menekan subsidi, dan memanfaatkan sumber listrik domestik dari PLTA, panas bumi, hingga PLTS.
2) Biodiesel dan bioavtur
Indonesia sudah cukup maju melalui program B40 hingga B50, berbasis sawit. Yakni campuran Solar campuran biodiesel adalah solusi cepat karena bisa langsung masuk ke mesin diesel tanpa perubahan besar pada infrastruktur. Dalam jangka pendek, ini adalah pengganti paling realistis untuk sektor truk, alat berat, dan pertanian.
3) Bioetanol
Bensin dapat dicampur etanol dari tebu, singkong, atau molase. Skema E10–E20 bisa menjadi solusi untuk sepeda motor dan mobil bensin tanpa menunggu elektrifikasi penuh.
4) Gas alam terkompresi (CNG/LNG)
Untuk transportasi umum, bus kota, dan logistik antarpulau, gas alam bisa menjadi jembatan transisi sebelum elektrifikasi total.
5) Hidrogen hijau (Green Higrogen)
Ini masih mahal, tetapi penting untuk industri berat, kapal, dan kendaraan jarak jauh di masa depan.
Strategi Transisi Energi Agar Tidak Menimbulkan Gejolak
Kunci terbesar transisi energi bukan pada teknologi, melainkan strategi sosial-ekonomi agar masyarakat tidak terbebani. Beberapa harus dilakukan adalah,
1. Bertahap, jangan mendadak
Konversi tidak boleh memaksa masyarakat langsung meninggalkan BBM. Secara bertahap tahap awal fokus pada, motor dinas pemerintah, transportasi publik, armada logistik BUMN,
ojek online melalui insentif.
Dengan begitu masyarakat melihat manfaat dulu sebelum diwajibkan.
2. Lindungi subsidi untuk kelompok rentan
BBM subsidi harus tetap ada untuk nelayan, petani, dan transportasi rakyat selama masa transisi. Subsidi kemudian bergeser dari BBM ke listrik dan baterai, misalnya bantuan pembelian motor listrik atau subsidi tarif charging malam hari.

3. Infrastruktur SPKLU (Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum) dan swap baterai
Tanpa infrastruktur, kendaraan listrik hanya akan menjadi proyek elite perkotaan. Pemerintah perlu membangun SPKLU masif di, jalur logistik Jawa–Sumatera, kota tier 2 dan tier 3, kawasan industri, wilayah timur Indonesia
4. Hilirisasi baterai nasional
Indonesia punya nikel, kobalt, dan mineral strategis. Maka transisi energi harus dihubungkan dengan industri baterai nasional, sehingga bukan sekadar mengganti kendaraan, tetapi juga menciptakan lapangan kerja dan devisa.
5. Stabilitas tarif listrik
Jika listrik mahal, masyarakat akan tetap memilih BBM. Karena itu tarif listrik untuk charging EV harus dijaga kompetitif agar biaya per kilometer jauh lebih murah daripada bensin. Kunci Politik Ekonomi, Transisi Tanpa membebani Rakyat.
Pernyataan Presiden Prabowo yang ingin “total listrik” lahir dari kesadaran bahwa mesin pembakaran internal masih membuat Indonesia bergantung impor minyak. Namun keberhasilan transisi tidak cukup dengan slogan konversi energi. Yang menentukan adalah, ketepatan subsidi, kesiapan industri domestic, infrastruktur listrik, harga kendaraan yang terjangkau, pasokan energi terbarukan.
Jika semua itu berjalan, maka transisi energi justru menjadi tameng fiskal Indonesia dari guncangan harga minyak dunia dan mengurangi risiko gejolak harga BBM di dalam negeri.
Di tengah ancaman harga minyak lebih dari 150 dolar, bahan bakar alternatif terbaik bagi Indonesia bukan hanya kendaraan listrik, tetapi kombinasi EV, biodiesel, bioetanol, dan gas alam sebagai energi transisi. Strategi yang paling aman adalah bertahap, tepat sasaran, dan melindungi daya beli rakyat. Dengan pendekatan itu, transisi energi tidak menjadi beban, melainkan momentum menuju kedaulatan energi nasional.