JAKARTA - Waktu menunjukkan pukul 04:50 WIB, di mana langit biru tua yang berangsur-angsur memudar menjadi biru muda menjadi saksi pertemuan yang tidak disengaja dari dua tokoh Nahdlatul Ulama (NU) yang sedang berseteru di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta. Keduanya juga berada dalam satu pesawat yang sama menuju Bandara Juanda, Surabaya, Jawa Timur.
Suara yang memberitahukan penumpang yang menuju Surabaya diminta untuk bersiap dan dipersilakan memasuki pesawat. Mendengar hal itu, Rais Aam PBNU KH Miftahul Akhyar yang mengenakan syal berwarna hijau, jas berwarna krem dan sarung batik dan sandal gunung berdiri dari tempat duduknya dan melangkah menuju pesawat Batik Air ID 7511 diikuti rombongannya. Di sisi lain dari ruang tunggu, Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) yang mengenakan jas dan celana hitam juga ikut berdiri diikuti rombongannya.
Kedua tokoh ini berjalan dalam lorong yang menuju pesawat dengan diam. Tindakan Gus Yahya yang berjalan di belakang KH Miftahul Akhyar mencerminkan penghargaan yang begitu tinggi terhadap Raim Aam PBNU itu. Padahal dirinya baru saja dicopot dari jabatannya sebagai Ketum PBNU.
Memasuki pesawat, Rais Aam duduk di baris ketiga (Seat 3D) sementara Gus Yahya duduk di baris kedua.
Wakil Sekretaris Jenderal PBNU Wahyu Nur Hidayat (Gus Wahyu) menjelaskan, sesaat setelah Miftachul Akhyar memasuki pesawat, ia langsung memberi tahu staf Syuriyah PBNU yang mengantarkannya ke Bandara Halim Perdanakusuma bahwa dirinya berada dalam satu pesawat dengan rombongan Gus Yahya.
"Rais Aam berada di baris ketiga (seat 3D). Gus Yahya dan rombongan di baris kedua," kata Gus Wahyu dalam keterangannya, Kamis (27/11/2025).
Dia menjelaskan, setelah mendarat di Bandara Juanda sekitar pukul 07.28 WIB, Miftachul Akhyar mengirimkan pesan WhatsApp ke staf Syuriyah yang intinya menjelaskan tidak ada pembicaraan apapun selama di dalam penerbangan atau pesawat.
"Rais Aam sempat diarahkan oleh Staf Gus Yahya untuk menuju ruang VIP, tapi beliau memilih langsung menuju parkiran Bandara Juanda, karena Rabu (26/11) kemarin beliau berangkat ke Jakarta bersama Gus Mughits Al-Iroqi dengan mengendarai mobil pribadi dan memarkir mobil di Bandara Juanda," ungkap Gus Wahyu.
Gus Wahyu menceritakan selama jalan kaki menuju area pelataran parkir mobil, Gus Yahya dan rombongan terus mengikuti langkah Miftachul Akhyar, sambil meminta waktu sowan. "Rais Aam menjawab 'mangke kulo ningali jadwal (nanti saya cek jadwal)'," tutur Gus Wahyu.
Yahya Agen Israel?
Rais Aam KH Miftachul Akhyar menegaskan bahwa Gus Yahya telah diberhentikan dari jabatannya sebagai Ketua Umum (Ketum) PBNU. Rais Aam menunjuk dirinya sendiri sebagai Pejabat Sementara (Pjs) Ketua Umum dan membentuk Tim Pencari Fakta (TPF) untuk menginvestigasi seluruh persoalan.
Puncak kekesalan Rais Aam dan jajaran Syuriyah berakar dari acara Religion 20 (R20) yang diinisiasi oleh Gus Yahya Isu ini menjadi sangat sensitif karena menyangkut sikap politik luar negeri NU yang secara historis mendukung kemerdekaan Palestina.
Kedekatan Yahya dengan PM Israel Benyamin Netanyahu sudah bukan rahasia. Bahkan kedekatannya mereka berfoto dipublish Netanyahu di akun sosial medianya. Cibiran dan kritik keras pun datang bertubi, Yahya dinilai merepresentasikan sebuah organisasi besar Islam di Indonesia yang membuka diri dengan Israel.
Yahya juga dianggap menyakiti rakyat Palestina. Sebab, kedatangan Yahya bersamaan dengan Israel menyerang rakyat Palestina.
Seakan tidak kapok dengan kritikan keras, Gus Yahya mengundang akademikus Peter Berkowitz, dalam kegiatan Akademi Kepemimpinan Nasional NU, di Bali, 2022. Peter Berkowitz pernah menulis buku Israel and The Struggle Over The International Laws of War, yang berisi membela Israel terhadap pelbagai kritik hukum internasional. Kegiatan ini dianggap telah mencederai marwah organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut.
Saat ditemui Yahya mengaku tidak mengetahui Peter Berkowitz kerap membela gerakan zionisme. "Jadi saya mohon maaf sekali kepada masyarakat bahwa saya membuat keputusan tanpa pertimbangan yang teliti dan lengkap terkait Peter Berkowitz," kata dia, beberapa waktu lalu.
“Saya tahun 2018 pernah pergi ke Israel dan bertemu Nentanyahu (Perdana Menteri Israel). Mereka (anggota NU) sudah tahu dan mereka memilih saya sebagai ketum saat Muktamar Lampung,” kata Yahya kepada awak media di Hotel Novotel Samator Surabaya, Ahad 23 November 2025.
Rais Aam PBNU Tunjuk Tim Audit
Rais Aam PBNU pemegang mandat tertinggi dari Syuriah mecurigai adanya kecurangan dalam pengelolaan dana kegiatan Religion 20 (R20) di Bali pada 2022 yang diterima PBNU dari Rabithah Alam Islami atau Muslim World League (MLW). Karenanya, Rais Aam menunjuk Tim Audit Akuntan Publik Gatot Permadi, Azwir dan Abimail (GPAA) untuk melakukan audit. Ini bagiian dari mencari akar persoalan.
Intenal PBNU juga mengungkap adanya serangkaian aliran dana masuk dan keluar yang melibatkan Mardani H. Maming, mantan Bendahara Umum PBNU sekaligus eks Bupati Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan. Dokumen tersebut menunjukkan dugaan aliran dana Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) senilai Rp100 miliar ke rekening PBNU pada 2022, selain sejumlah transaksi besar lainnya melalui rekening Bank Mandiri PBNU 102007555xxx yang dikendalikan Maming.
Dokumen-dokumen laporan keuangan baik penerimaan dan keluar PBNU yang diterima para auditor GPAA ini diberikan oleh bendahara umum PBNU Gus Gudfan Arif dan sesuai dengan prosedur yang sudah disepakati untuk periode 1 Januari hingga 31 Desember 2022.
Dokumen audit mencatat dana masuk ke rekening PBNU berasal dari Grup PT Batulicin Enam Sembilan milik Maming, dengan total Rp100 miliar yang ditransfer dalam empat tahap: 20 Juni 2022 sebesar Rp20 miliar dan Rp30 miliar, serta 21 Juni 2022 sebesar Rp35 miliar dan Rp15 miliar. Semua transaksi tercatat untuk HUT ke-100 PBNU dan operasional kegiatan lain.
Sementara itu PBNU membantah adanya dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU) terkait temuan dana Rp100 miliar yang masuk ke rekening PBNU pada 2022. Bendahara Umum PBNU Sumantri Suwarno menegaskan, seluruh transaksi keluar dan masuk dalam rekening tersebut merupakan instruksi langsung dari Mardani H. Maming, yang ketika itu menjabat Bendahara Umum PBNU.
Dalangnya Pengusaha Inisial 'BT' ?
Bermula dari sebuah anugerah yang semestinya membawa kebaikan. Wilayah Izin Usaha Pertambangan Khusus seluas 26.000 hektare dari bekas konsesi Kaltim Prima Coal. Nilainya diperkirakan mencapai 150 hingga 160 triliun rupiah. Sebuah kekuatan ekonomi yang sanggup mengubah wajah NU, memperkuat pesantren, meringankan beban warga, dan menjaga martabat jamiyah agar tidak tunduk kepada siapa pun selain Allah dan para ulama.
Paragraf di atas merupakan tulisan KH Ahmad Muzani Al Fadani, Katib PBNU sekaligus Pimpinan Ponpes Nurun Nabi Al-Islami, bertajuk 'Berkah Tambang yang Menjadi Laknat di Rumah Besar NU' menjelaskan penyebab NU nyaris terbelah. Ada campur tangan dari sosok pengusaha tambang berinisial 'BT' dalam konflik NU saat ini.
Menurut KH Ahmad Muzani, terjadi perbedaan pandangan antara Gus Yahya dengan Gus Ipul terkait siapakah operator tambang tersebut. Adanya desas-desus yang menyebut, Gus Ipul dan Rais Aam PBNU lebih pro ke BT. Sementara Gus Yahya mengantongi nama lain untuk menjadi operator tambang batubara bersegel PBNU. Perbedaan terasa sulit menemui titik tengah lantaran muncul dugaan: uang muka sudah masuk. Nilainya berkisar Rp40 miliar hingga Rp70 miliar.
Lantas sulitkah mencari siapa sosok berinisial 'BT'? Tentu saja mudah, Tinggal mengurutkan saja nama-nama pengusaha batubara ternama yang bisa dihitung dengan jari. Mungkin bila ingin sedikit dikhususkan kata kunci dalam mesin pencari, pengusaha ini punya hubungan khusus dengan salah satu menteri di Kabinet Merah Putih (KMP).
Pakar ekonomi energi asal UGM, Fahmy Radhi mengatakan kebijakan di era Jokowi tentang bagi-bagi IUP mineral dan batubara (minerba) kepada ormas keagamaan, sudah pernah ia sampaikan dari jauh hari. Fahmy khawatir, ormas keagamaan sebesar NU justru terlibat praktik pertambangan ilegal yang melawan hukum. Dan prediksinya terbukti pada saat ini.
"Saya khawatir ormas keagamaan masuk grey area yang penuh kejahatan hitam tambang. Keberadaan ormas keagamaan yang seharusnya memperbaiki akhlak malah terseret dalam kegiatan mafia. Timbulkan kerusakan lingkungan dan hal negatif lainnya," tutupnya.