Mendalami Lompatan Ideologis Munarman: dari YLBHI, Mengenal HTI, Berlabuh di FPI
Munarman (Foto: Antara/Desain:Raga Granada)

Bagikan:

Pasca kepulangan mantan pentolan Front Pembela Islam (FPI) Muhammad Rizieq Shihab ke Tanah Air, serangkaian peristiwa kontroversial bermunculan. Mulai dari mencuatnya perkara pelanggaran protokol kesehatan, peristiwa penembakan enam laskar FPI, dan yang terbaru soal penangkapan mantan Sekretaris Umum FPI, Munarman yang diduga terlibat dalam tindakan terorisme. Kasus Munarman menjadi sorotan sebab ia bukan hanya dikenal sebagai eks petinggi organisasi terlarang, melainkan juga dari rekam jejaknya yang sempat "hijrah." Artikel perdana Tulisan Seri khas VOI edisi "Kontroversi FPI," tentang lompatan ideologi Munarman.

 

Munarman lahir pada 16 September 1968, di Palembang, Sumatra Selatan. Ia adalah anak keenam dari sebelas bersaudara. Ayah Munarman, H. Hamid merupakan pensiunan guru Sekolah Rakyat, sedangkan ibunya bernama Nurjanah. Didikan orang tuanya berhasil membawanya hingga menamatkan ilmu hukum di Universitas Sriwijaya, Palembang. 

Munarman mulai dikenal sebagai aktivis pembela hak sipil. Semua itu diawali ketika dirinya menjadi bagian Yayasan lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) di Palembang pada 1995. Ia memulai karirnya dari seorang relawan. Berkat kinerja baiknya selama dua tahun bekerja, ia dia mendapat promosi sebagai Kepala Operasional YLBHI Palembang. 

Sebagai aktivis pembela hak sipil, Munarman sempat menjadi Koordinator Kontras Aceh (1999-2000). Setelahnya, Munarman menduduki kursi Korrdinator Badan Pekerja Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) di Jakarta.

Berbekal sederet pengalaman itulah karier munarman terus menanjak. Melansir Harian Kompas, 25 September 2002, Munarman yang bekerja untuk KontraS terpilih sebagai Ketua Dewan Pengurus YLBHI (2002-2007). Munarman berhasil merebut 17 suara dari 24 anggota Dewan Pembina YLBHI. Sementara lawannya, Daniel Panjaitan hanya mendapat enam suara dan satu suara lagi abstain. Saat menjabat ketua YLBHI 2002-2007, Munarman membuat gebrakan pada dua bulan masa kepemimpinannya.

Kala itu YLBHI yang dikenal sebagai lokomotif demokrasi Indonesia nyaris gulung tikar. Penyandang dana asing satu demi satu mengundurkan diri, karyawan minta berhenti, dan 14 cabang daerah akan tutup. 

Munarman beserta dewan Pembina turut putar otak. Sampai ia mengambil keputusan tak populer, yakni memotong haji para staf 50 persen serta meniadakan Tunjangan Hari Raya (THR) sementara waktu. Langkah itu dapat menjadi solusi untuk menutup kas YLBHI yang semakin menipis.

“Yang memburuk tentu saja kesejahteraan pengacara dan karyawan. Para pengacara kini harus mencari pendapatan dengan juga bekerja di badan hukum lainnya di luar. Di daerah, beberapa pengacara membuka kantor advokat hukum sendiri selain juga coba-coba mencari kesempatan menjadi anggota Dewan Perwakilan Daerah atau aktif di Panitia Pengawas Pemilu. Sebagian pengurus daerah ada pula yang berbisnis kecil-kecilan,” ungkap Munawarman dikutip Nurdin Kalim DKK dalam Majalah Tempo (2003).

“Penggalangan dana untuk mengembalikan kiprah sang lokomotif demokrasi bukan tak pernah dilakukan. Pengurus YLBHI, misalnya, pernah menyebarkan surat permohonan donasi kepada para alumninya. Namun hasilnya minim: sebagian besar alumni LBH baru sekadar memberikan dukungan moral agar YLBHI tak bubar. Malam dana yang digelar bulan lalu di Hotel Indonesia (HI) juga tak sukses, bahkan panitia tekor. Bantuan Rp500 juta yang pernah diberikan suami Presiden Megawati, Taufik Kiemas, jadi polemik,” tambah laporan tersebut.

Munarman (Foto: Antara)

Lompatan Munarman

Munarman semakin dikenal saat dirinya ikut serta dalam tim pengacara pimpinan Majelis Mujahidin Indonesia, Abu Bakar Ba'asyir. Pada saat itu, Abu Bakar tersandung kasus bom Bali dan divonis 2,5 tahun penjara.

Saat dekat dengan Abu Bakar Ba'asyir itulah Munarman mulai kepincut dengan gerakan Islam. Salah satu momen yang berbekas bagi Munarman adalah ketika polisi mendesak Ba’asyir untuk terus bicara, tapi Ba’asyir justru memilih diam.

Ba’asyir, kata Munarman tak pernah ngeluh dengan persoalan hukum. Lebih lagi, Ba’asyir konsisten dengan sikapnya. Termasuk menyelaraskan antara berpikir dan berbuat. Itulah yang dikagumi oleh Munarman. 

Selanjutnya, setelah lepas dari tim pengacara Abu Bakar dirinya mulai dekat dengan jaringan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Kedekatannya dengan HTI, membuat Munarman mulai mengenal beberapa tokoh termasuk pentolan FPI Muhammad Rizieq Shihab. 

Pergulatan batin

Dalam spektrum politik, para aktivis LBH biasanya kerap diasosiasikan ke arah kiri atau tengah kiri. Kelompok ini biasanya yang erat dengan ideologi sosialisme. Sementara apa yang dilakoni Munarman kemudian ia dianggap menyebrang ke spektrum kanan atau tengah kanan. Kelompok ini biasanya lekat dengan komunitas agama dan orang-orang nasionalis. Lantas bagaimana lompatan ideologi tersebut bisa terjadi?

Saat diwawancara Refly Harun dalam Youtube Channel miliknya, Munarman menjelaskan bagaimana ideologinya bisa berubah. Dia mengaku sebetulnya dirinya adalah orang yang berpegang kepada hal yang pasti. "Kalau ideologi ini menurut saya ada problem, saya ini kan orang yag selalu mencari sesuatu yang fix yang confirm. Saya kan latar belakangnya orang hukum. Hukum itu kan harus pasti," kata Munarman.

Lalu yang kedua alasan kenapa Munarman melakukan "hijrah" adalah karena ia ingin konsekuen antara perbuatan dan ucapannya. Dan ia melihat nilai-nilai tersebut ada pada Islam. 

"Menurut saya di dunia sekuler itu terlalu banyak ketidaksesuaian, antara satu pendapat dengan pendapat lain. Seolah-olah bergeraknya terlalu bebas... Lalu saya melihat dari sekian banyak referensi, pada akhirnya saya melihat referensi dalam dunia Islam yang cukup memberi konfirmasi sebetulnya," ungkap Munarman. 

Lalu faktor lain yang membuat Munarman membuat lompatan adalah karena terinspirasi dari sosok Abu Bakar Baasyir. Munarman yang pada waktu itu menjadi kuasa hukum Abu Bakar mengaku kagum dengan konsistensi antara ucapan dan tindakan dari sang ustaz.

"Jadi waktu itu LBH membela Ustaz Abu Bakar Baasyir. Dalam proses pembelaan itu, antara kesesuaian sikap dari seorang Abu Bakar Baasyir, apa yang dia ucapkan dengan apa tindakannya, itu selisihnya sedikit," kata dia. 

Infografik (Raga Granada/VOI)

Bergabung di FPI

Kedekatan dengan ormas Islam membuat dirinya terlibat ke dalam sebuah peristiwa yang disebut Insinden Monas 2008. Dalam insiden itu, Munarman menjabat sebagai Panglima Komando Laskar Islam. 

Munarman terbukti ada di tengah kelompok-kelompok yang memukuli dan mengintimidasi massa Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB). Keberadaan Munarman jadi pertanyaan besar banyak pihak. Sebab, dirinya dulu dikenal sebagai aktivis hak sipil.

“Pada hari unjuk rasa, sebuah kelompok payung islamis menyebut dirinya Laskar Islam atau ‘para pembela perintah Islam’ di bawah pimpinan Munarman dan ketua FPI Rizieq Shabib muncul di alun-alun dan menyerang para demonstran, memukuli sejumlah pemimpin Muslim LSM terkemuka. Munarman kemudian mengatakan bahwa serangan itu berkaitan dengan iklan media AKKBB yang dikutip sebelumnya.  Dia mengikuti logika tertentu bahwa kaum muslim arus utama terancam oleh kehadiran Ahmadiyah,” tulis Yew-Foong Hui dalam Encountering Islam: The Politics of Religious Identities in Southeast Asia (2013).

Alhasil, banyak organisasi Muslim, termasuk Nahdlatul Ulama (NU) menuntut FPI untuk diadili atas Insiden Monas. Buntutnya, 58 islamis, termasuk pimpinan FPI Rizieq Shihab dan Munarman ditangkap dalam operasi yang melibatkan 1.500 petugas. Di dalam kurungan, sel Munarman bersebelahan dengan sel Rizieq Shihab.

Sembilan bulan lamanya, hingga dipindah ke lapas terbuka. Menurut Munarman ia belajar banyak aspek ilmu keagamaan dari Rizieq Shihab, mulai dari tata cara salat sama pemikiran dan perbedaan mazhab. Ideologi Rizieq pun menginspirasi Munarman. Ia menyebut Rizieq sebagai sosok yang nasionalis. Keluar dari lapas pada 2009, Munarman makin intensif berkomunikasi dengan Rizieq Shihab. Munarman pun ditawarkan aktif bergabung di FPI.

“Sejak 2009 akhirnya saya itu ketua-ketua bidang. Pertama Ketua Bidang Nahi-Munkar 2009-2013... Setelah itu, karena referensi saya cukup banyak, saya jadi Ketua Badan Ahli, jadi dewan pakar sampai 2015, dan dilanjut sebagai Ketua Bidang Keorganisasian untuk menata FPI agar strukturalnya lebih lincah. Sudah itu beres, saya diminta untuk jadi sekum,” terang Munarman.