Gerak Cepat Prabowo Subianto Merangkul Rival Politik
Ilustrasi Foto karya Andry Winnarko VOI

Bagikan:

JAKARTA - Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah menetapkan dan mengumumkan hasil kontestasi Pemilihan Presiden langsung pada Rabu, 20 Maret kemarin. Hasilnya pasangan Prabowo Subianto - Gibran Rakabuming Raka unggul dengan perolehan suara 96.214.691 suara dari total suara Pilpres 2024 sebesar 164.270.475 suara atau 58 persen. mengalahkan pasangan Anies-Muhaimin dengan perolehan 40.971.906 suara dan pasangan Ganjar-Mahfud dengan 27.040.878 suara.

Dengan hasil rekapitulasi ini KPU akan mengesahkan kemenangan Prabowo-Gibran pada Juni setelah memberikan kesempatan para kontestan mengajukan gugatan sengketa Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU). Setelah ada putusan dari sengketa di Mahkamah Konstitusi akan ditetapkan pemenang pilpres 2024.

Seperti diketahui KPU memberikan kesempatan para pihak 3x 24 jam mengajukan sengketa pilpres ke Mahkamah Konstitusi. Diketahui Anies-Cak Imin telah mengajukan permohonan perkara pada Kamis 21 Maret pukul 00.58 WIB secara online. Perkara itu teregistrasi dengan nomor perkara 01-01/AP3-PRES/Pan.MK/03/2024 dan dikuasakan gugatan itu kepada Ari Yusuf Amir, Sugito dan Zaid Mushafi. Sementara Ganjar-Mahfud mengajukan gugatan pada Sabtu 23 Maret pukul 16.53 WIB dengan nomor registrasi 02-03/AP3-PRES/Pan.MK/03/2024. Kuasa hukum pemohon adalah Maqdir Ismail, Yanuar P. Wasesa, dan Todung M. Lubis.

Sabtu 23 Maret pukul 24.00 WIB MK secara resmi telah menutup pendaftaran permohonan sengketa hasil pemilihan presiden. Selain dua pasangan calon yang mengajukan sengketa pilpres. Partai PPP yang suara tidak memenuhi ambang batas juga mengajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi. Adanya sengketa di Mahkamah Konstitusi KPU menunggu hasil putusan MK, sebelum menyatakan definitif pasangan yang dinyatakan resmi sebagai Presiden dan wakil Presiden hasil Pilpres 2024.

Meski kemenangan telah di tangan, Prabowo Subianto menyadari perjalanan pemerintahanya ke depan menghadapi banyak tantangan. Meski dinyatakan sebagai pasangan pemenang pilpres. Suara partainya ada di urutan ke 3 masih di bawah suara PDIP, sehingga kekuatan di Parlemen masih belum dominan. Dari sisi peroleh kursi Koalisi Indonesia Maju tak sampai menguasai 50 persen kursi.

Peta Kekuatan Koalisi

Jika dikalkulasi kekuatan Gerindra dan partai koalisinya di parlemen saat ini dapat ditandingi kekuatan gabungan partai rival mereka, bahkan sedikit lebih kuat. Ada delapan partai pengusung Prabowo-Gibran yang ikut pemilu, namun hanya empat partai yang lolos ambang batas threshold 4 persen, yakni Gerindra dengan 86 kursi, Golkar dengan 102 kursi, Partai Amanat Nasional (PAN) dengan 48 kursi, dan Demokrat dengan 44 kursi. Jumlah kursi koalisi ini hanya 280 suara.

Sementara Koalisi rivalnya, dari kubu pasangan Anies-Cak Imin didukung oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dengan 53 kursi, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dengan 69 kursi, dan Partai NasDem dengan 69 kursi. Jumlah suara ketiga parpol tersebut mencapai 189 kursi. Ditambah partai pendukung pasangan Ganjar-Mahfud yakni PDIP dengan 110 kursi dan PPP yang masih diperjuangkan, gabungan Suara kedua kubu itu mencapai 300 kursi lebih. Sehingga secara hitung hitungan kekuatan di parlemen 280 banding 300 kursi.

Selain kerja keras untuk menyeimbangkan kekuatan di parlemen, Karena secara hitung hitungan kekuatan parlemen posisi partai koalisi pemerintah masih kalah jumlah dengan oposisi. Meski orang mengatakan baik untuk demokrasi dengan oposisi yang kuat. Tetap saja bagi kubu pemerintah Prabowo-Gibran dengan kekuatan yang lebih kecil di parlemen akan menyulitkan gerak keleluasaan menggolkan kebijakan-kebijakan pemerintahannya. Sehingga Gerindra bergerak cepat begitu Partai NasDem dan Surya Paloh menyatakan menerima hasil pemilu dan menyampaikan ucapan selamat atas kemenangan Prabowo-Gibran tak lama setelah KPU menyatakan hasil rekapitulasi. Satu hari dari pernyataan itu, Prabowo langsung menyambangi markas NasDem di Gondangdia. Seolah Prabowo ingin mengamplifikasi pengakuan Ketua Umum NasDem itu.

Setidaknya Prabowo melihat beberapa partai di pihak rival yang bisa digarap dan ditarik bergabung ke kubunya minimal bisa bekerja. Mereka yang sudah gamblang menyampaikan ucapan selamat yakni Nasdem dan PPP. Di kalangan barisan pasangan Prabowo-Gibran meyakini beberapa partai bisa diajak untuk bergabung pada waktunya. Makanya begitu dinyatakan pemenang pilpres Prabowo bergerak cepat merangkul rivalnya termasuk saat ketua umum Partai NasDem, Surya Paloh terdengar menyatakan ucapan selamat atas kemenangannya. Prabowo dalam hitungan jam langsung menyambangi markas NasDem di Gondangdia, Jakarta Pusat.

Pernyataan sikap NasDem itu, sempat memicu kekecewaan kubu tim Amin yang berujung diturunkannya bendera NasDem di kantor koalisi. Mereka menilai NasDem sudah tidak sejalan mengusung Perubahan lagi. Sebab di saat koalisi Amin masih berjuang mengajukan gugatan sengketa Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) ke Mahkamah Konstitusi, NasDem secara sepihak mengeluarkan pernyataan.

Surya Paloh sendiri dalam pertemuan dengan Prabowo belum secara tegas menyatakan bergabung bersama Gerindra, meski Prabowo secara terbuka mengajaknya bergabung. Surya menyampaikan dengan komentar bersayapnya bahwa dalam pertemuan itu ingin tetap menjaga persahabatan dengan baik. Dirinya dan Prabowo bersama para elit lainya menginginkan penekanan progres pembangunan berjalan dengan baik.

Nasdem, PKB dan PKS Masih di Koalisi Perubahan

(Foto: Ahmad Syaikhu, Muhaimin Iskandar, Anies Baswedan, Surya Paloh di Wisma Nusantara, 23 Februari)
(Foto: Ahmad Syaikhu, Muhaimin Iskandar, Anies Baswedan, Surya Paloh di Wisma Nusantara, 23 Februari)

Menanggapi keguncangan di kubu Amin atas pertemuan Prabowo-Surya Paloh, Sekjen NasDem, Hermawi Taslim menegaskan mereka masih di Koalisi Perubahan. Tentang pertanyaan NasDem akan bergabung atau tetap di oposisi? peluangnya masih fifty-fifty, saat ini seperti dinyatakan Surya Paloh sebelumnya. "Kita masih punya waktu 7 bulan untuk memikirkan itu. Tidak bisa serta merta DPP memutuskan, kita harus dialog dengan akar rumput, dengan 514 DPP dan dengan 2000-an anggota DPRD di daerah agar putusan yang kita ambil searah dan tegak lurus," ujarnya.

Sementara Juru bicara tim Amin, Iwan Tarigan memastikan, sejauh ini NasDem PKB, dan PKS masih di koalisi Perubahan O1. Menurut Iwan, pihaknya menghormati hak partai Nasdem untuk menentukan pilihannya. Menurutnya kontrak Koalisi dengan NasDem itu ada batasnya, yakni sampai pilpres selesai, setelah itu masing masing punya hak untuk menentukan pilihan. Kemarin KPU sudah menetapkan, tapi kami keberatan. MK memastikan 14 April harus sudah ada kepastian diterima atau ditolak, seandainya putusan diterima maka NasDem masih harus berjuang bersama di Tim Amin. Namun bila dinyatakan ditolak, sejak itu kontrak selesai. NasDem secara legal boleh kemana saja. Iwan juga menegaskan hingga kemarin pihak NasDem masih mengirimkankan tim lawyer ke MK.

Selain NasDem pihak yang menyatakan telah menyatakan ucapan selamat atas kemenangan Prabowo-Gibran adalah Partai Persatuan Pembangunan. Sayang PPP dinyatakan tak lolos karena tidak memenuhi syarat Ambang batas / threshold 4 persen. Saat ini mereka masih mengejar untuk menyelamatkan suara mereka dengan mengajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi. PPP meyakini hasil hitungan pihaknya suara mereka memenuhi ambang batas bahkan melebihi.

Menanggapi itu, Wakil Ketua Umum PPP, Rusli Efendi menyatakan memang pilpres telah selesai. Tetapi partainya punya persoalan dinyatakan tidak memenuhi ambang batas 4 persen. Padahal menurut hitungan kami sudah memenuhi karena itu kami melakukan gugatan ke MK. "Itulah fokus kami saat ini. Terkait soal silaturahmi Ketum kami menyapa Prabowo yang sudah diumumkan KPU sebagai pemenang, saya pikir itu budaya dan tradisi yang bagus. Tetapi sejauh ini kita belum berfokus kesitu" katanya dalam percakapan di TVOne.

Juru Bicara Gerindra, Wihadi Wiyanto, mengatakan pilpres memang dianggap sudah selesai. Tetapi dari sana kontestasi meninggalkan polarisasi di masyarakat. Makanya pihaknya ingin mengajak semua elemen bangsa untuk bergandengan tangan membangun Indonesia maju. Itulah platform dari Prabowo ingin merangkul secara bersama semua elemen bangsa.

Menanggapi langkah gercep Prabowo merangkul partai di luar Koalisi Indonesia Maju. Analis Politik Universitas Paramadina, Ahmad Khoirul Umam mengatakan, di satu sisi ada yang gercep, ada yang malu malu kucing. Dari sisi Prabowo sendiri memang sangat membutuhkan politik akomodatif. Sebab bagaimanapun juga perhari ini, kekuatan elemen 02 praktis akumulasinya di angka 42-45 persen. Untuk posisi ke depan Prabowo sebagai news elected presiden membutuhkan minimal 65 persen dukungan, kalau SBY 70 persen, Jokowi bahkan sampai 80-90 persen dukungan.

Menurut Umam melihat pertemuan Prabowo dan Paloh kemarin, ia menganalisa pertemuan itu bukan pertemuan yang tiba -tiba. Pertemuan itu merupakan hasil operasi sebelumnya. Saat Paloh melakukan pertemuan dengan Presiden Jokowi, Paloh juga secara diam-diam menjalin juga pertemuan dengan Prabowo.

Menurut Tim Kerja Strategis Prabowo Subianto - Gibran Rakabuming Raka, Bahlil Lahadalia, melihat pertarungan politik antara Prabowo dan Surya Paloh hanya sebatas pertarungan di Pilpres ia meyakini akan ada partai yang bergabung koalisi Indonesia Maju. Saat diminta untuk menyebut mana partai yang ingin bergabung. "Filing saya akan ada, ciri-ciri partai berwarna sejuk" katanya.