Menyoal Stigma "Kita adalah di Mana Rumah Kita Berdiri"
Suasana Perkampungan Islami Tyoyibah (Detha Arya Tifada/VOI)

Bagikan:

Bagian dari Tulisan Seri khas VOI, "Kapan Mapan Papan?". Kita telah melawan upaya penipuan berkedok rumah syariah lewat "Banyak Penipuan Rumah Syariah, Tapi Kita Pelajari Cara Menghindarinya". Di artikel ini, kita lihat kehidupan di Kampung Islami Thoyibah di Cibitung, Bekasi, Jawa Barat. Kita juga akan mendalami kasus Yasonna Laoly dengan warga Tanjung Priok. Tentang stigma dangkal yang diutarakan sang menteri. Apakah kita adalah di mana rumah kita berdiri?

 

Portal Perkampungan Islam Thoyibah (Detha Arya Tifada/VOI)

“Orang yang belum tahu akan Kampung Islami Thoyibah sudah pasti menganggap kompleks ini eksklusif karena dihuni hanya sesama muslim saja. Padahal, bagi kita biasa-biasa saja. itu hanya orang-orang yang membesar-besarkan,” ucap Maulana Yusuf kepada VOI, Kamis, 30 Januari.

Waktu itu bakda ashar, ketika kami menemui Maulana di kediamannya di Kampung Islami Thoyibah, Kecamatan Kertamukti, Cibitung, Bekasi, Jawa Barat. Pria 40 tahun itu adalah mantan Ketua Rukun Tetangga (RT) setempat. Ia duduk santai dengan kemeja serta celana yang membalut seluruh aurat. Kepada kami, Maulana berkisah tentang stigma berbau radikalisme Islam yang mengarah kepada dirinya dan seluruh penghuni kampung lain.

Kehidupan di Kampung Islami Thoyibah memang menarik. Sesuai namanya, "Kampung Islami", warga di sana hidup dengan dengan segala aturan yang disesuaikan dengan hadis Islam dan Alquran. Beberapa di antaranya adalah larangan merokok dan menyetel musik di lingkungan perumahan, tentang penggunaan hijab, serta aturan bagi warga kampung untuk salat lima waktu di masjid.

Selain itu, peraturan berasas syariat di Kampung Islami Tyoyibah juga meliputi kehidupan anak-anak. Kata Maulana, setiap anak dididik agar tak ketergantungan dengan teknologi macam smartphone dan televisi. Anak-anak juga dilarang keluar rumah ketika waktu maghrib lepas.

“Itu karena hadis Nabi mengatakan, 'Kunci pintu kalian dan bawa anak-anak di bawah masuk. Karena setan berkeliaran di luar saat malam.' Apakah salah kita jalani hadis Nabi? Kan enggak,” tutur Maulana.

Di sana, kami juga menemui sejumlah anak. Farhan Hasan, salah satunya. Farhan saat ini masih duduk di kelas 2 SD. Sekolahnya, SDIT Umar Bin Khathab juga ada di dalam wilayah perkampungan. Kepada kami, Farhan mengaku baik-baik saja. Ia bahkan senang bermain tanpa teknologi. "Senang bisa main di sini," kata Farhan di atas gerobak yang disesaki teman sebaya lainnya.

Farhan bermain bersama teman sebayanya (Detha Arya Tifada/VOI)

Kembali pada Maulana. Ia berusaha menyampaikan keresahan warga kampung soal stigma radikal yang mengecap di pangkal dahi mereka. Tanggapan bahwa warga Kampung Islami Thoyibah intoleran, misalnya. Meski hanya bisa ditinggali umat muslim, Maulana mengatakan tak pernah ada tendensi apa pun dari warga Kampung Islami Thoyibah terhadap warga kampung lain.

“Tak ada itu yang kami kafirkan atau menganggap mereka sesat. Kita enggak ada, Alhamdullilah. Itu hanya via internet saja yang dibesar-besarkan seakan kami ini intoleran,” tuturnya.

Tendensi itu justru dirasakan menyasar Maulana dan tetangga-tetangganya. Di awal-awal peradaban kampung, warga Kampung Islami Thoyibah sempat tak kerasan dengan banyaknya perilaku intoleran yang dialami. Dalam kepala mereka, toleransi adalah menjalani kehidupan sesuai keyakinan masing-masing. Pun bagi mereka yang hidup dengan keyakinan Islam. Tendensi terhadap keyakinan yang mereka pegang jadi kontradiksi sosial di mata mereka.

“Tolong jangan merokok, tolong pakai jilbab, tolong jangan nyetel musik. Hanya itu saja. Kita hanya sebatas mengingat. Tak lebih. Bahkan, tak ada paksaan sama sekali. Cuma, yang tinggal di sini sudah pasti wajib seorang muslim ... Orang beranggapan apa saja, silakan. Yang kita pegang adalah keyakinan," tuturnya.

Selain aturan dan cara berbusana warganya, Kampung Thoyibah juga memiliki ciri, yakni persaudaran erat antarwarga. “Perempuannya pakai cadar, penampilannya (laki-laki) jenggot dan cingkrang. Untuk yang baru kenal dan lihat akan merasa tak nyaman. Tapi, jika sudah mengenal lebih dalam, mereka akan melihat persaudaraan kita di sini lebih kuat dari perumahan lainnya, sehingga banyak di antara mereka yang awam tadi kemudian ikut membeli rumah disini,” kata Maulana.

Mendalami stigma

Kehidupan sosial negeri ini memang dipenuhi stigma. Jangankan antarwarga. Menteri Hukum dan HAM (Menkum HAM), Yasonna Laoly kena masalah akibat stigma. Januari lalu, politikus PDIP itu didemo warga Tanjung Priok yang tersinggung oleh ucapan Yasonna yang jadi viral di media sosial. Warga Tanjung Priok menilai Yasonna telah sembarangan menimpakan stigma negatif kepada mereka.

Duduk perkaranya adalah ketika Yasonna berpidato di Lapas Narkotika Kelas IIA Jatinegara, Jakarta timur, Kamis, 16 Januari. Dalam pidatonya, Yasonna menjelaskan keterkaitan kuat antara rendahnya tingkat perekonomian sebuah wilayah dengan kerentanan kriminalitas yang dilakukan warga wilayah tersebut. Dan Yasonna menjadikan Tanjung Priok sebagai contoh kemarjinalan itu.

"Yang membuat itu menjadi besar adalah penyakit sosial yang ada. Itu sebabnya kejahatan lebih banyak terjadi di daerah-daerah miskin. Slum areas (daerah kumuh), bukan di Menteng. Anak-anak Menteng tidak. Tapi, coba pergi ke Tanjung Priok, di situ ada kriminal, lahir dari kemiskinan," tuturnya dikutip Kompas.com, Kamis, 16 Januari.

Belakangan, Yasonna mengklarifikasi ucapannya. Ia meminta maaf dan menyatakan tak bermaksud mengerdilkan warga Tanjung Priok. "Pernyataan saya sama sekali tidak dimaksudkan untuk menyinggung perasaan saudara-saudara di Tanjung Priok. Bahwa kemudian ternyata itu berkembang luas dengan penafsiran berbeda di media massa dan publik luas, sehingga saudara-saudara merasa tersinggung, maka saya menyampaikan permohonan maaf," kata Yasonna saat jumpa pers di Gedung Ditjen Imigrasi, ditulis CNN Indonesia, Rabu, 22 Januari.

Apa pun alasan Yasonna. Bagaimana pun pandangan orang kepada warga Kampung Islami Thoyibah, stigmasisasi adalah perkara lama yang hidup di dalam kepala banyak masyarakat Indonesia. Seakan "anda adalah tempat di mana rumah anda berdiri". Sosiolog Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, Tantan Hermansyah memberi pandangan soal stigmasisasi ini.

Menurut Tantan, stigmasisasi adalah dasar pemikiran umum banyak orang yang melihat suatu hal secara general. Rendahnya kualitas pendidikan jadi faktor yang membentuk stigma di kepala banyak orang di Indonesia. Namun, hal tersebut tentu tak berlaku buat seorang menteri macam Yasonna. "Tetapi, kalau seorang menteri yang memiliki kekuasaan atas akses data, maka itu menjadi masalah," kata Tantan dihubungi VOI, beberapa waktu lalu.

Berkaca pada sejarah

Kehidupan sosial terus berkembang. Hal-hal baik ditinggalkan. Termasuk ketika stigmasisasi dan sensitivitas masih entah apa. Dahulu, perbedaan bukan hal penting. Bhinneka Tunggal Ika masih dipahami betul. Jangan jauh-jauh bicara ras. Kala itu, orang-orang keturunan China, Arab, Indo-Belanda, atau pun pribumi tulen dapat membangun rumah sesuai corak budaya arsitektur masing-masing.

Buku "Jakarta Punya Cara" yang ditulis Zeffri Alkatiri menggambarkan situasi itu. Dalam tulisan berjudul Fenomena Perumahan di Batavia dan Jakarta, Zeffri berkisah bagaimana orang-orang membangun rumah dengan ragam bentuk sesuai budaya masing-masing. “Dari bentuk penampakan luarnya, kita sudah dapat menerka, rumah itu milik orang China, Arab, Indo-Belanda, ataupun masyarakat setempat.”

Dijelaskan, rumah orang indo-Belanda, orang China kelas menengah, atau pun masyarakat nonmuslim mudah dikenali karena seringkali mereka memasang pengumuman di depan pagar rumah bernada peringatan “Awas ada anjing galak!” lengkap dengan gambar Anjing menjulurkan lidahnya. Tanda itu tercipta karena pada zaman dulu, hampir tak ada muslim yang memelihara anjing.

Tentang ciri khas rumah orang China, Zeffri menjelaskan, hal itu dapat dilihat dari agama yang dianutnya. Semisal, beragama Kristen, maka pemilik rumah akan banyak memajang gambar Yesus Kristus atau disertai gambar Bunda Maria yang disertai kata-kata dari Injil pada dinding ruang tamu mereka. Beda hal dengan mereka yang beraliran kepercayaan Kong Hu Chu. Di dalam rumah, mereka selalu memiliki meja abu dengan pajangan foto dari sebagian keluarga yang telah meninggal.

Kalaupun belum ada, mereka akan menggantung tempat hio di depan rumahnya untuk bersoja --memberi hormat-- setiap pagi dan malam. “Dulu, umumnya rumah orang China menyatu dengan tokonya. Sebagian yang berhasil lalu pindah ke tempat lain. Sementara, tokonya yang ramai serta dianggap hoki dipertahankan.”

Berbicara ciri khas rumah orang Arab, beda lagi. Mereka biasanya punya ciri khas tersendiri berupa pajangan kaligrafi atau gambar Ka'bah atau gambar Burung Buraq. Ciri ini terlihat banyak, khususnya di antara orang-orang Arab konservatif. “Bahkan, rumah golongan Alawyn (Habib) selalu memajang beberapa foto para ulama terkenal. Model ini kemudian mempengaruhi rumah-rumah di sekitarnya, khususnya mereka yang beragama Islam,” tertulis.

Soal rumah orang Betawi. Kala itu, orang Betawi memiliki kebiasaan kolektif membangun rumah di dekat air, baik sungai atau pun rawa. Selain itu, orang Betawi yang kala itu populasinya tak begitu banyak cenderung membangun rumah di perkampungan yang dipenuhi pepohonan. Dikutip dari buku Abdul Chaer berjudul Betawi Tempo Doeloe, ia menjelaskan penyebaran orang Betawi hingga tahun 1950-an. Dari Ciledug di mata bagian barat, Tanah Abang dan Menteng di Selatan, hingga Matraman di ujung timur.

Rumah-rumah betawi memiliki kemiripan dengan rumah-rumah orang Sunda, Jawa, atau pun Melayu yang tinggal di sekitar wilayah Jakarta. Hanya saja, ciri rumah Betawi yang paling menonjol adalah "... teknik penyambungan tiang dengan penglari selalu diperkuat dengan semacam pasak (pen) terbuat dari bambu. Sehingga apabila rumah itu akan pindah, pen dapat dicabut untuk direkonstruksi kembali di tempat lain. Jadi, memudahkan jika rumah itu akan dipindahkan karena tanpa dipaku,” tertulis.

Rumah Betawi memiliki ciri beragam. Mereka yang tinggal di perkampungan biasanya memiliki lahan yang sangat luas. Berbeda dengan yang di perkotaan atau pinggiran yang terhalang oleh keterbatasan tanah. Pembeda lainnya adalah letak dari fasilitas MCK (mandi, cuci, kakus).

“Pada rumah-rumah orang Betawi di kampung-kampung, MCK-nya berada di luar rumah. Dapat juga agak jauh rumah. Bahkan, rumah yang terletak di dekat sungai, fasilitas MCK-nya berada di sungai itu. Sebaliknya, rumah-rumah diperkotaan yang lahannya sempit, fasilitas MCK-nya menyatu dengan rumah,” ditulis.

Sejarawan JJ Rizal berbicara soal ini. Ia menyayangkan hilangnya kampung-kampung Betawi yang tergerus arus pembangunan. Hal itu menyebabkan orang-orang Betawi asli bergeser ke Bogor, Depok, Tangerang, hingga Bekasi. “Sayangnya, dalam konteks penggusuran, ruang di Jakarta adalah uang. Sampai di sini perebutan ruang terjadi sehingga penggusuran mulai terjadi pada warga Betawi.”

Izinkan kami mengutip salah satu sajak Ahmad Wahib yang paling masyhur:

Kita terngadahkan muka keatas

Ke alam bebas dan lepas

Di mana pluralisme bisa hidup

Dan antipluralisme tak menemukan ruangnya

Di mana perkawinan pendapat bukan pengkhianatan

Di mana pertentangan pendapat bukan pengacauan

Di mana pembaharuan sikap bukan kejelekan

Artikel Selanjutnya: "Tentang yang Tinggal Jauh dari Jakarta dan Habiskan Hidup di Jalan"