Efek Obat Kuat dan Untuk Apa Kita Menggunakannya
Ilustrasi (Ilham Amin/VOI)

Bagikan:

Kita telah membahas asas legalitas obat kuat dalam "Obat Kuat dan Asas Legalitasnya". Sebelumnya, kita juga telah membahas berbagai hal lain soal obat kuat, bagaimana ia jadi simbol kekuasaan yang memiliki relasi kuat dengan budaya patriarki. Bukan cuma digunakan oleh mereka yang membutuhkan karena persoalan medis, obat kuat digunakan oleh khalayak yang rasanya teramat luas. Artikel pamungkas dari Tulisan Seri khas VOI, "Kuat karena Obat", kita akan melihat khasiat sebenarnya dari penggunaan obat kuat. Bagaimana pun khasiatnya, perlukah kita menggunakannya? Atau ada jalan lain yang lebih tepat?

 

Dengan meminum obat kuat, laki-laki bisa merasa jantan dan percaya diri ketika sedang berhubungan intim dengan pasangan mereka. Namun, penggunaan efek obat kuat ini sejatinya mempunyai berbagai dampak bagi mereka yang menggunakan.

Dampak paling parah dari penggunaan obat kuat ini adalah kematian. Seperti yang terjadi di Mojokerto. Kariono (48) mendadak tewas ketika menginap bersama teman wanitanya, Mujiati di sebuah hotel yang ada di Desa Kembangsore, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto.

Kariono ditemukan tewas dalam kondisi tanpa busana setelah berhubungan badan. Setelah dilakukan pemeriksaan, belakangan Kariono tewas karena overdosis obat kuat.

"Dugaan awal bisa over dosis karena konsumsi obat tertentu, bisa juga karena serangan jantung," kata Kasat Reskrim Polres Mojokerto, AKP M. Solikhin Ferry seperti kami kutip dari suara.com, Jumat, 24 Januari.

Seksolog Dokter Boyke Dian Nugraha mengatakan kasus kematian seperti ini lazim terjadi, karena jantung biasanya tak kuat dengan dosis obat yang masuk ke tubuh. Ini terjadi karena adanya peningkatan dosis obat kuat yang diminum oleh pengguna. Sebab jika sembarangan, obat kuat bisa seperti narkoba yang dosis penggunaannya semakin tinggi.

"Dosisnya makin lama makin tinggi, sepanjang dia tidak mengubah pola hidup termasuk pola makan, ... maka dosis (yang digunakan secara sembarangan) akan semakin tinggi. Seperti narkoba dia naik terus, mula-mula dosisnya 25 gram, 50 gram, 100 gram, 200 gram sudah enggak mempan," kata Dokter Boyke ketika VOI temui di kliniknya, Jalan Tebet Raya Timur Dalam, Jakarta Selatan, 13 Januari yang lalu.

Obat kuat mungkin bisa saja disebut candu. Sebab, Seksolog Zoya Amirin menceritakan pada kami jika dia pernah berbincang oleh laki-laki berusia 30 tahun yang selalu menggunakan obat kuat sejak pertama kali dirinya berhubungan seksual di umur 27 tahun dan belum pernah sekalipun mencoba berhubungan seks tanpa obat.

"Saya tanya sejak kapan minum ini (obat kuat), 'sejak 27 tahun'. Padahal 27 tahun itu kan masih kuat. ... Kata dia, 'ya, pokoknya setiap saya berhubungan seks sama pacar, gebetan, saya harus selalu minum obat kuat karena pertama kali saya sudah minum'," ungkap Zoya menceritakan ulang pertemuan itu pada kami beberapa waktu yang lalu.

Mendengar cerita tersebut, seksolog ini justru merasa heran. Karena di usia yang sangat muda, harusnya laki-laki itu bisa menunjukkan performa seksnya tanpa bantuan obat. Lagipula, Zoya mengatakan, bisa saja memang obat kuat menambah vitalitas mereka tapi ke depan, keperkasaan merekalah yang jadi taruhannya.

Sebab, semakin lama menggunakan obat kuat, maka sugesti harus minum obat saat berhubungan seks akan terus menempel di kepala mereka. Sebenarnya, selain menggunakan obat kimiawi seperti obat-obatan yang mengandung sidenafil atau tadalafil, efek untuk membantu mencegah ejakulasi dini bisa dilakukan dengan penggunaan obat herbal. Namun, Zoya berpendapat, penggunaan obat herbal ini hanya efek placebo atau sugesti semata.

"Kalau herbal kebanyakan sugestinya atau placebo, dia minum pertama, kedua berhasil," ungkapnya.

Lain Zoya, lain pula dokter Boyke. Menurutnya, selain memanfaat obat kimiawi, obat herbal seperti tongkat ali, pasak bumi, purwoceng, dan berbagai herbal lainnya sebenarnya bisa digunakan sebagai cara lain untuk melawan ejakulasi dini.

Hanya saja, jamu yang akan dikonsumsi itu harus masuk ke dalam daftar obat yang boleh beredar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Sebab, menurut Boyke, beberapa jamu yang diklaim bisa meningkatkan vitalitas justru tak ada fakta medisnya.

"Kebanyakan itu kan membeli jamu-jamu yang kadang enggak ada fakta medisnya, kayak empedu ular kobra, apa hubungannya? Enggak ada. Otak monyet yang mentah-mentah, kan enggak ada hubungannya, atau malah dikerokin tangkur buaya, cula bada, itu kan enggak ada," tegas dia.

"Tapi kalau purwoceng, pasak bumi, san rego itu ada penelitian yang itu disebut sebagai herbal berkhasiat dan biasanya pabrik-pabrik yang benar mengeluarkan sudah dengan (standar) BPOM," imbuh dia.

Namun, ketimbang membeli obat kimiawi dan herbal, dokter Boyke kemudian menyarankan sebaiknya mereka yang ingin menyembuhkan perkara ejakulasi dini bisa memperbaiki pola hidup mereka. Misalnya, dengan selalu mengecek kesehatan, berhenti begadang, merokok, dan rajin berolahraga.