JAKARTA - Pertumbuhan penggunaan aset kripto di Indonesia terus menunjukkan tren positif, dengan generasi muda, khususnya Gen Z dan milenial muda, menjadi penggerak utama adopsi nasional.
Berdasarkan Indonesia Crypto & Web3 Industry Report 2025, sebanyak 93 persen responden telah familiar dengan aset kripto, dengan lebih dari separuhnya merupakan Gen Z yang aktif menjadikan kripto sebagai bagian dari percakapan finansial sehari-hari di media digital dan komunitas online.
Sejalan dengan temuan tersebut, Business Development & Research Lead Tokocrypto, Indriana, mengungkapkan bahwa dari sisi platform, Gen Z menunjukkan karakteristik yang berbeda dibanding generasi sebelumnya.
“Gen Z cenderung lebih aktif dan memiliki risk appetite yang lebih tinggi. Mereka cepat dalam mengambil keputusan, terutama saat melihat peluang dari tren pasar. Namun di sisi lain, mereka juga mulai menunjukkan perkembangan positif dengan meningkatnya literasi, seperti diversifikasi aset dan pengelolaan portofolio yang lebih strategis,” ujarnya.
Fenomena dominasi Gen Z dalam adopsi kripto juga tercermin secara global.
Studi Protocol Theory menunjukkan bahwa generasi muda di Amerika Serikat memiliki tingkat kepercayaan lebih tinggi terhadap kripto dibandingkan institusi keuangan tradisional, dengan 22 persen Gen Z lebih mempercayai kripto dalam menjaga aset mereka, dibandingkan hanya 13 persen pada Gen X dan 5 persen pada baby boomers.
Preferensi ini didorong oleh kebutuhan akan kontrol, transparansi, dan akses terhadap aset digital.
Menanggapi tren tersebut, Indriana, menilai bahwa pola ini juga mulai terlihat di Indonesia, terutama dari cara Gen Z memandang kepemilikan aset.
“Gen Z cenderung ingin memiliki kendali langsung atas aset mereka dan lebih transparan dalam memantau pergerakannya. Ini yang membuat kripto menjadi menarik, karena memberikan rasa kontrol dan akses yang sebelumnya tidak mereka dapatkan di sistem keuangan konvensional,” jelasnya.
Di sisi lain, laporan World Economic Forum juga menyoroti bahwa tekanan ekonomi seperti stagnasi pendapatan dan meningkatnya biaya hidup mendorong sebagian Gen Z untuk mencari alternatif investasi yang lebih berisiko, termasuk kripto.
BACA JUGA:
Hal ini menunjukkan bahwa selain faktor teknologi, kondisi ekonomi juga berperan dalam membentuk perilaku investasi generasi muda.
Dengan kombinasi faktor teknologi dan ekonomi, Indriana menegaskan tren ini perlu diimbangi dengan pendekatan edukasi yang tepat.
“Ketertarikan yang tinggi perlu diimbangi dengan pemahaman yang kuat. Tanpa literasi yang cukup, keputusan investasi bisa menjadi terlalu reaktif terhadap tren, bukan berdasarkan strategi jangka panjang,” tutupnya.