Bagikan:

JAKARTA – Keadaan es laut Arktik saat musim dingin terus mencapai titik terendah. Dalam dua tahun berturut-turut, hasil pengamatan satelit yang dipantau NASA menunjukkan luas es yang terus mengecil.

Pada 15 Maret 2026, luas es hanya mencakup 14,29 juta kilometer persegi, hampir menyamai rekor terendah yang terjadi pada tahun sebelumnya, yakni 14,31 juta kilometer persegi. Situasi ini dinilai mempertegas tren penurunan es yang dipantau sejak 1979.

Para ilmuwan dari NASA dan National Snow and Ice Data Center (NSIDC) juga mengkhawatirkan perubahan ketebalan es. Data dari satelit ICESat-2 milik NASA menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah timur laut Greenland kini memiliki lapisan es yang jauh lebih rapuh.

Laut Okhotsk yang berbatasan dengan Jepang dan Rusia juga mengalami fenomena penipisan es yang signifikan pada musim dingin. Meski wilayah tersebut memiliki variabilitas alami, kondisi saat ini tetap dianggap mengkhawatirkan oleh para ahli kriosfer.

Data satelit mengungkapkan bahwa puncak tutupan es tahun ini berada sekitar 1,3 juta kilometer persegi di bawah rata-rata tahun 1981-2010. Hal ini membuktikan bahwa pembentukan es baru di kutub utara terus mengalami penyusutan dari tahun ke tahun.

"Satu atau dua tahun dengan jumlah es sedikit mungkin tidak berarti banyak jika dilihat secara terpisah," ujar ilmuwan es NSIDC, Walt Meier. Namun, ia menekankan bahwa penurunan yang konsisten sejak 1979 memberikan gambaran nyata atas perubahan iklim global.

Berbeda dengan Arktik, es laut di Antartika justru menunjukkan sedikit peningkatan dibandingkan titik terendah pada tahun 2023. Meski masih di bawah rata-rata secara historis, luas es di kutub selatan mencapai 2,58 juta kilometer persegi pada akhir Februari lalu.

Untuk memantau kondisi ini secara real-time, para peneliti kini mengandalkan sensor canggih dari Badan Eksplorasi Ruang Angkasa Jepang (JAXA). Data tersebut akan dibandingkan dengan rekaman satelit Nimbus-7 untuk memastikan akurasi dari perubahan iklim.