Bagikan:

JAKARTA – YouTube meluncurkan alat deteksi kemiripan wajah untuk para kreator tahun lalu. Kini, kemampuan tersebut diperluas kelompok yang dianggap lebih membutuhkan, yakni pemerintahan hingga jurnalis.

Secara spesifik, YouTube tengah menguji coba fitur tersebut kepada kelompok yang terdiri dari pejabat pemerintah, jurnalis, dan kandidat politik. Dukungan ini hadir untuk melindungi tokoh publik dari ancaman peniruan identitas atau deepfake.

YouTube mengatakan bahwa sistem ini bekerja seperti Content ID, tetapi fokus pada pemindaian kemiripan fisik yang dihasilkan Kecerdasan Buatan (AI). Jika ditemukan kecocokan wajah, individu yang terdaftar dapat mengajukan permohonan penghapusan konten.

YouTube menegaskan bahwa deteksi yang ditemukan tidak menjamin konten akan langsung dihapus. Namun, mereka tetap berkomitmen untuk melindungi hak kebebasan dalam berekspresi, terutama untuk konten yang bersifat parodi, satire, atau kepentingan publik.

YouTube akan mengevaluasi setiap permintaan penghapusan agar privasi dan kritik terhadap tokoh berpengaruh tetap seimbang. YouTube juga akan memberikan pengecualian bagi konten yang dibuat untuk memberikan informasi penting kepada masyarakat.

Setiap peserta yang ingin menggunakan fitur ini wajib melewati proses verifikasi identitas yang sangat ketat untuk mencegah penyalahgunaan. Data identitas tersebut hanya digunakan untuk keperluan keamanan dan tidak akan dipakai untuk melatih model AI generatif milik Google.

Pihak YouTube belum merinci daftar nama politisi atau pejabat mana yang masuk dalam tahap pengujian awal. Namun, mereka berencana untuk membuka akses deteksi perlindungan ini secara lebih luas dalam beberapa bulan mendatang.