JAKARTA – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyatakan kesiapannya dalam mendorong industri kedirgantaraan di Asia Tenggara. Komitmen ini disampaikan dalam ajang Space Summit 2026.
Untuk menjalankan komitmennya, BRIN bertekad menguatkan ekosistem antariksa nasional dengan cara mengembangkan teknologi hingga menyiapkan sumber daya manusia. Strategi ini dilakukan agar Indonesia turut serta dalam industri antariksa.
"Upaya tersebut menjadi bagian dari strategi jangka panjang Indonesia untuk menjadi pemain dalam rantai industri global,” ujar Kepala Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa BRIN, Robertus Heru Triharjanto, dikutip pada Selasa, 10 Maret.
Langkah berikutnya yang akan BRIN lakukan adalah memfasilitasi pembentukan berbagai organisasi profesional seperti Asosiasi Antariksa Indonesia untuk tujuan kolaborasi riset. Selain itu, BRIN akan bekerja sama dalam mengembangkan satelit bersama pihak swasta.
Di tingkat global, fasilitas stasiun bumi BRIN telah digunakan untuk mendukung pelacakan satelit antariksa India atau ISRO. BRIN juga aktif mempromosikan wilayah ekuator Indonesia sebagai lokasi strategis dalam pembangunan bandar antariksa dunia.
BACA JUGA:
Direktur Eksekutif INASA BRIN, Erna Sri Adiningsih, menilai keterlibatan swasta di sektor antariksa nasional telah meningkat dalam lima tahun terakhir. Oleh karena itu, Erna meyakini bahwa investasi terhadap teknologi antariksa dapat memperkuat ekonomi digital dan layanan publik.
“Karena itu, investasi dalam teknologi antariksa tidak hanya berkaitan dengan sains, tetapi juga merupakan investasi strategis bagi pembangunan ekonomi dan layanan publik,” ungkap Erna.
Saat ini, BRIN akan fokus pada penguasaan teknologi satelit penginderaan jauh untuk memitigasi bencana dan keamanan negara. Peta jalan ekonomi antariksa juga sedang disusun bersama Bappenas untuk menjamin keberlanjutan sektor antariksa di masa depan.