Bagikan:

JAKARTA – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menjalin kerja sama dengan Badan Antariksa Eropa (ESA) untuk memperkuat pemanfaatan data Observasi Bumi. Kesepakatan ini ditandatangani pada 3 Maret 2026.

Melalui kolaborasi ini, BRIN ingin memitigasi risiko bencana secara berkelanjutan menggunakan teknologi satelit. Bukan hanya di Indonesia, BRIN berencana memanfaatkan teknologinya secara luas di kawasan ASEAN.

Kerja sama ini merupakan bagian dari inisiatif Sustainable Connectivity Package for Europe and ASEAN (SCOPE). Program tersebut akan mengintegrasikan data satelit Copernicus milik Eropa untuk kebutuhan analisis lingkungan di Asia Tenggara.

"Ini merupakan langkah bermakna yang mencerminkan komitmen bersama kedua institusi dalam memajukan Observasi Bumi," kata Kepala Pusat Riset Geoinformatika BRIN, M. Rokhis Khomarudin, dikutip pada Sabtu, 7 Maret 2026.

Dari berbagai bencana yang ingin diatasi, BRIN akan fokus memitigasi dampak perubahan iklim seperti banjir dan abrasi pantai dengan data observatorium ESA. Data mereka juga akan digunakan untuk mengelola kekayaan biodiversitas serta hutan tropis di Indonesia.

Integrasi data penginderaan jauh milik ESA diharapkan dapat meningkatkan kualitas sistem Geomimo dan Spectra yang dikembangkan BRIN. Harapannya, integrasi ini akan memperluas cakupan analisis geospasial untuk isu kebakaran hutan hingga ketahanan pangan nasional.

Terdapat empat ruang lingkup utama yang BRIN dan ESA sepakati, beberapa di antaranya ialah memfasilitasi akses data dan mengadakan lokakarya bersama. Mereka juga akan mengadakan program peningkatan kapasitas bagi para peneliti Indonesia dan ASEAN.

Pihak BRIN berharap kolaborasi ini segera menghasilkan solusi nyata yang memberikan dampak langsung bagi masyarakat luas. Implementasi riset bersama dan berbagi data satelit akan menjadi kunci utama dalam program internasional ini.

Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+