Bagikan:

JAKARTA - Striker Tim Nasional (Timnas) Wanita Iran, Sara Didar, menahan air mata saat mengungkapkan harapannya agar negaranya tetap kuat dan bersemangat di tengah meningkatnya konflik di Timur Tengah.

Menjelang pertandingan grup Piala Asia Wanita 2026 melawan Australia di Gold Coast pada Kamis, 5 Maret 2026, Didar berbicara dan berlinang air mata ketika menyampaikan keprihatinannya terhadap negaranya dan keluarga rekan-rekan setimnya.

Iran mengalami pemadaman internet beberapa hari setelah pembunuhan pemimpin tertinggi mereka, Ayatollah Ali Khamenei, oleh serangan Amerika Serikat (AS)-Israel pada akhir pekan lalu sehingga kontak antara pemain di Australia dan keluarga mereka semakin sulit.

"Jelas kami prihatin dan sedih atas apa yang terjadi pada Iran dan keluarga kami di sana. Saya sangat berharap negara kami akan mendapatkan kabar baik. Saya berharap negara saya akan tetap kuat dan bersemangat," kata Didar kepada wartawan di Gold Coast.

Pemain berusia 21 tahun itu kemudian mulai menangis saat mendengar penerjemah menyampaikan jawabannya dalam bahasa Inggris sebelum sang striker bergegas menuju pintu keluar.

Iran berlatih hingga larut malam di Gold Coast pada Rabu, 4 Maret 2026, di mana tahap awal sesi latihan mereka yang terbuka untuk media terganggu oleh drone video yang terbang di atas Pizzey Park.

Kanada dikurangi poin di Olimpiade Paris 2024 karena memata-matai tim lawan, tetapi penyelenggara Piala Asia Wanita 2026 menduga insiden singkat ini ialah lelucon anak-anak setempat.

Staf tim Iran, yang dengan cepat mulai merekam video perangkat yang berdengung di atas kepala, bersikeras bahwa itu bukan milik tim Iran sebelum drone tersebut menghilang di atas Burleigh Leagues di dekatnya.

Ada ketegangan yang meningkat di sekitar Iran, yang mana para pemain dan pelatih kepala Marziyeh Jafari menolak untuk berkomentar tentang gejolak politik negara tersebut.

"Kami sangat senang bahwa warga Iran-Australia di sini mendukung kami. Jelas sekali kami sangat prihatin terhadap keluarga dan orang-orang terkasih kami, serta semua orang di negara kami, yang sama sekali tidak dapat kami jangkau."

"Di sini, kami datang untuk bermain sepak bola secara profesional. Kami akan melakukan yang terbaik untuk berkonsentrasi pada pertandingan yang akan datang," kata pelatih Iran, Jafari.

Timnas Wanita Iran memang melakukan semacam protes dengan tetap diam selama lagu kebangsaan sebelum kekalahan 0-3 dari Korea Selatan pada Senin, 2 Maret 2026.

Beberapa suporter Iran mengibarkan bendera Kekaisaran Iran selama kekalahan melawan Korea Selatan itu--bendera resmi negara itu sebelum penggulingan Shah yang didukung AS dalam Revolusi Islam 1979.

Tak heran, pelatih Australia, Joe Montemurro, sebelum pertandingan meminta timnya untuk menyapa warga Iran dengan rasa empati untuk pertandingan yang mana ada peningkatan kehadiran polisi.

"Kita tidak bisa membicarakan apa yang telah terjadi, dari mana mereka berasal. Uang bisa kita bicarakan hanyalah tentang kita di turnamen yang indah ini."

"Kami ingin memberi mereka turnamen terbaik yang mungkin dalam hal memberi mereka pengalaman seumur hidup. Bagi kami, ini tentang menunjukkan rasa kemanusiaan, rasa hormat, dan menunjukkan kepada mereka betapa indahnya kita sebagai sebuah negara, dan betapa indahnya kita sebagai orang Australia," tutur Montemurro.

Sementara itu, pertandingan pada Kamis, 5 Maret 2026, tersebut merupakan pertama kalinya Australia menghadapi Iran sejak meraih kemenangan 2-0 dalam Kualifikasi Olimpiade 2023.

Pada hari pertandingan, Australia berhasil memenangi pertandingan dengan skor 4-0 untuk memastikan mereka lolos ke babak gugur Piala Asia Wanita 2026.

Sedangkan Iran masih terseok-seok di Grup A. Mereka masih menjadi juru kunci dengan dua kekalahan sejauh ini. Sisa satu pertandingan melawan Filipina pada 8 Maret 2026.

Kemenangan memungkinan Iran masih bisa menjaga asa lolos ke fase gugur melalui jalur peringkat ketiga terbaik.