Bagikan:

JAKARTA – Sejumlah peneliti dari NASA dan University of Maryland mengumpulkan sampel air dari laut antartika. Sampel-sampel ini akan diteliti untuk mencari kehidupan lain di luar Bumi.

Antartika sengaja dipilih oleh para ilmuwan karena keadaan air lautnya dinilai paling mirip dengan kondisi lautan di luar Bumi. Sampel ini diyakini dapat membantu para ilmuwan dalam mencari potensi kehidupan di planet es seperti Jupiter dan Europa.

Para ilmuwan yang terlibat dalam penelitian ini percaya bahwa ada lautan air yang tersembunyi di bawah lapisan es tebal pada sejumlah planet atau bulan di tata surya. Hal ini didukung oleh penemuan karbon, nitrogen, dan energi lainnya di berbagai objek antariksa tersebut.

Senyawa-senyawa tersebut merupakan bahan dasar dari kehidupan. Temuan ini memperkuat kepercayaan adanya kehidupan di planet lain, tetapi para ilmuwan belum menemukan kehidupan tersebut hingga saat ini.

Hal ini terjadi karena sulitnya membawa sampel dari luar angkasa untuk kembali ke Bumi. Padahal, fenomena 'kriovolkanisme' di Enceladus, bulan Saturnus, yang membuat air di bawah permukaan meletus ke luar angkasa bisa diambil menggunakan robot penjelajah.

Akan tetapi, proses pengembaliannya lebih kompleks dari yang dibayangkan. Perjalanan dari laut di Enceladus ke ruang antariksa yang hampa dapat mengubah atau menghilangkan tanda-tanda kehidupan seperti molekul organik.

Mariam Naseem dan Marc Neveu, para peneliti yang mengambil sampel di antartika, akan mempelajari bagaimana air laut berubah saat membeku di ruang angkasa. Mereka akan menggunakan simulator khusus untuk mereka adegannya.

Namun, untuk mempelajari hal tersebut, mereka memerlukan sampel alami dari lingkungan yang gelap dan terisolasi di Bumi agar hasil penelitiannya lebih akurat. Oleh karena itu, mereka mengambil sampel air dari lautan Antartika.

Tim peneliti telah berhasil mengambil sampel Arus Sirkumpolar pada kedalaman lebih dari 1.100 meter tepat di malam tahun baru. Kini, sampel-sampel tersebut berada di laboratorium Maryland.

Di laboratorium, sampel akan dibagi menjadi dua bagian untuk dianalisis secara langsung dan disuntikkan ke dalam mesin simulator luar angkasa. Teknik kromatografi khusus akan digunakan untuk melacak perubahan pada garam, asam amino, serta asam lemak di dalam air tersebut.

Hasil penelitian ini akan membantu NASA menentukan bagaimana erupsi di ruang angkasa mengubah material laut asli. Penemuan ini diharapkan dapat membantu para ilmuwan dalam mendeteksi kehidupan di luar Bumi.