Bagikan:

JAKARTA - Kementerian Komunikasi dan Digital menilai ancaman terbesar bagi dunia pers saat ini bukanlah kehadiran kecerdasan buatan (AI) yang menggantikan wartawan, melainkan praktik pengambilan nilai dan karya jurnalistik tanpa imbal balik yang adil.

Menurut Wamenkomdigi, Nezar Patria, mesin AI yang menyerap konten media dan menyajikannya kembali dalam bentuk ringkasanlah yang membuat media kehilangan trafik, pendapatan, dan posisi strategisnya sebagai rujukan publik.

“Ancaman terbesar jurnalisme hari ini bukan wartawan digantikan oleh artificial intelligence, tetapi nilai jurnalisme diekstraksi tanpa pengembalian yang adil kepada media,” katanya dikutip Selasa, 10 Februari.

Nezar mengatakan, disrupsi AI menyentuh seluruh rantai ekosistem media. Dengan demikian, dampaknya tidak hanya pada ruang redaksi, tetapi juga pada kualitas informasi yang diterima masyarakat.

Ia menegaskan bahwa ringkasan mesin tidak setara dengan karya jurnalistik. Jurnalisme menghadirkan konteks, disiplin verifikasi, dan wajah manusia di balik peristiwa.

“Yang dibaca publik akhirnya bukan karya jurnalistik, melainkan ringkasan mesin. Di situ banyak nuansa dan kemanusiaan yang hilang,” tutur Nezar lebih lanjut.

Nezar menegaskan, masa depan media ditentukan oleh jurnalisme yang tidak bisa direplikasi mesin. Liputan lapangan, investigasi, dan cerita komunitas menjadi pembeda di tengah banjir konten sintetis.

Oleh karena itu, untuk menjaga ekosistem informasi publik, hak penerbit, transparansi penggunaan konten oleh teknologi AI, serta prinsip kompensasi yang adil bagi industri media menjadi bagian dari arah kebijakan digital nasional.

“Langkah ini ditujukan untuk menjaga keberlanjutan jurnalisme berkualitas dan melindungi hak publik atas informasi yang utuh dan dapat dipercaya,” tegas Nezar.