Bagikan:

JAKARTA – Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sanchez, menegaskan pemerintahannya tidak akan goyah oleh tekanan para bos teknologi global terkait rencana pelarangan media sosial bagi anak-anak di bawah usia 16 tahun. Sanchez bahkan menuding para “oligarki teknologi” menyebarkan kebohongan demi melindungi kepentingan mereka.

Mengutip laporan Reuters, Kamis 5 Februari, Sanchez menyatakan bahwa perusahaan teknologi besar tidak akan mampu memengaruhi tekad pemerintah Spanyol untuk memperketat aturan media sosial. Ini termasuk membatasi akses anak-anak dan menindak ujaran kebencian di platform digital.

“Demokrasi jelas tidak akan dipengaruhi oleh oligarki teknologi yang mengendalikan algoritma,” kata Sanchez dalam sebuah acara di Madrid. “Baru kemarin mereka berbicara kepada jutaan orang melalui platform mereka untuk menyebarkan kebohongan.”

Pernyataan tersebut muncul setelah pendiri Telegram, Pavel Durov, dan pemilik X, Elon Musk, secara terbuka mengkritik rencana Spanyol. Durov pada Rabu 4 Februari menentang kebijakan Sanchez yang ingin melarang akses media sosial bagi pengguna di bawah 16 tahun dan membuka peluang penuntutan terhadap eksekutif platform jika terjadi ujaran kebencian.

Sehari sebelumnya, Musk bahkan menyebut Sanchez sebagai “tirani dan pengkhianat rakyat Spanyol” melalui unggahan di akun X miliknya.

Spanyol mengikuti jejak sejumlah negara Eropa seperti Inggris, Yunani, dan Prancis yang tengah mempertimbangkan sikap lebih keras terhadap media sosial. Langkah ini menguat setelah Australia pada Desember lalu menjadi negara pertama di dunia yang secara resmi melarang anak di bawah 16 tahun mengakses platform media sosial.

Durov, dalam pesan yang dikirimkan kepada seluruh pengguna Telegram di Spanyol, memperingatkan bahwa rancangan undang-undang tersebut akan memaksa platform media sosial mengumpulkan data seluruh pengguna dan membuka pintu bagi pemerintah untuk mengendalikan apa yang dilihat warganet.

Namun pemerintah Spanyol justru menilai pesan Durov tersebut sebagai bukti kuat perlunya regulasi yang lebih ketat.

“Pesan massal itu menunjukkan betapa mendesaknya pengaturan terhadap media sosial dan aplikasi pesan, demi melindungi warga dari informasi yang menyesatkan,” ujar pernyataan pemerintah Spanyol.

Sanchez sendiri dikenal sebagai salah satu pemimpin kiri Eropa yang paling vokal mengkritik platform teknologi besar. Sejak awal tahun lalu, ia telah mendorong penghapusan anonimitas di media sosial serta mengusulkan agar data pengguna dihubungkan dengan dompet identitas digital Uni Eropa.

Dengan sikap keras ini, pemerintah Spanyol menegaskan bahwa perlindungan anak dan kualitas demokrasi menjadi prioritas utama, meski harus berhadapan langsung dengan para raksasa teknologi dunia.