JAKARTA – Penyelidikan pihak berwajib di Prancis terhadap platform media sosial X milik Elon Musk semakin intensif pada Jumat, 11 Juli, ketika kantor kejaksaan Paris mengumumkan bahwa mereka telah melibatkan polisi untuk menyelidiki dugaan penyalahgunaan algoritma dan ekstraksi data secara curang oleh perusahaan atau eksekutifnya.
Langkah ini menambah tekanan pada Musk, yang pernah menjadi sekutu mantan Presiden AS Donald Trump. Musk telah menuduh pemerintah-pemerintah Eropa menyerang kebebasan berbicara dan juga menyatakan dukungan terhadap beberapa partai sayap kanan di kawasan tersebut.
Menurut pernyataan dari Jaksa Paris, Laure Beccuau, polisi Prancis dapat melakukan penggeledahan, penyadapan, dan pengawasan terhadap Musk serta eksekutif X, atau memanggil mereka untuk memberikan kesaksian. Jika mereka tidak mematuhi panggilan, hakim dapat mengeluarkan surat perintah penahanan internasional.
X belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar dari media.
Penyelidikan awal diluncurkan oleh kejaksaan Paris pada Januari 2025 nsetelah menerima keluhan tentang dugaan campur tangan asing oleh X dari seorang anggota parlemen dan pejabat senior Prancis. Pada 9 Juli, setelah temuan awal dari peneliti dan institusi publik Prancis, kejaksaan meminta polisi untuk menyelidiki X "baik sebagai entitas hukum maupun melalui individu-individu tertentu."
Dugaan pelanggaran yang diselidiki meliputi "gangguan terorganisir terhadap fungsi sistem pemrosesan data otomatis" dan "ekstraksi data secara curang dari sistem pemrosesan data otomatis."
BACA JUGA:
Penyelidikan terbaru ini terhadap tokoh-tokoh teknologi besar dapat memperdalam ketegangan antara Washington dan ibu kota Eropa mengenai jenis wacana yang diizinkan di dunia daring. Sebagai contoh, Pavel Durov, pendiri aplikasi pesan Telegram kelahiran Rusia, saat ini berada di bawah pengawasan yudisial di Prancis setelah ditangkap tahun lalu dan diselidiki atas dugaan kejahatan terorganisir di aplikasinya. Durov membantah tuduhan tersebut.
Penahanan Durov, yang dikritik oleh Musk, memicu perdebatan tentang kebebasan berbicara yang juga diangkat oleh pejabat senior Trump. Musk sendiri telah menggunakan X untuk mendukung partai-partai dan gerakan sayap kanan di Prancis, Jerman, dan Inggris.
Setelah bersekutu dengan Trump selama beberapa bulan, Musk baru-baru ini berselisih dengan presiden tersebut mengenai anggaran federal dan kini berencana meluncurkan partai politiknya sendiri.