Bagikan:

JAKARTA - Laporan terbaru Cloudflare mengungkapkan bahwa masih banyak organisasi di Asia Pasifik (APAC) yang menghadapi hambatan tersembunyi dalam inovasi AI akibat fondasi aplikasi yang usang.

Melihat fakta itu, dalam laporan yang bertajuk App Innovation Report 2026, Cloudflare menilai modernisasi aplikasi sejak dini menjadi kunci utama untuk menembus hambatan tersebut.

Di kawasan APAC, laporan ini menemukan bahwa perusahaan yang telah memodernisasi aplikasinya tercatat tiga kali lebih mungkin memperoleh return on investment (ROI) yang jelas dari penerapan AI.

Bahkan, 92% pemimpin di kawasan Asia Pasifik mengatakan bahwa memperbarui perangkat lunak mereka adalah faktor terpenting dalam meningkatkan kemampuan AI mereka.

Seiring fondasi teknologi dibenahi, pendekatan organisasi terhadap AI pun berubah. Laporan Cloudflare mencatat 90% organisasi di APAC kini telah mengintegrasikan AI ke dalam portofolio aplikasi yang sudah ada, bukan sekadar mengujinya secara terpisah.

Tren ini diperkirakan berlanjut, dengan 80 persen organisasi berencana memperdalam integrasi AI dalam satu tahun ke depan.

Sebaliknya, organisasi yang tertinggal dalam modernisasi menghadapi risiko lebih besar. Mereka cenderung kurang percaya diri terhadap infrastruktur teknologinya dan baru melakukan pembaruan setelah terjadi insiden keamanan siber.

Selain itu, Cloudflare juga menyoroti masalah kelebihan alat teknologi sebagai penghambat efisiensi. Untuk mengurangi kompleksitas sistem dan mempercepat inovasi, 86% pemimpin organisasi di APAC kini aktif mengonsolidasikan teknologi dengan memangkas alat redundan dan praktik shadow IT.

Melalui laporan ini, Cloudflare menegaskan, tanpa fondasi aplikasi yang modern, upaya memaksimalkan AI tidak hanya berisiko gagal memberikan nilai bisnis, tetapi juga membuka celah gangguan operasional dan ancaman keamanan di masa depan.