JAKARTA – CEO Google DeepMind, Demis Hassabis, mengaku terkejut dengan upaya OpenAI dalam menghadirkan iklan di ChatGPT. Menurut Hassabis, perusahaan Kecerdasan Buatan (AI) itu bergerak terlalu cepat.
Bagi Hassabis, penambahan iklan ke platform chatbot AI merupakan hal yang perlu dipertimbangkan dengan sangat hati-hati. Oleh karena itu, Google belum memonetisasi layanan AI-nya hingga saat ini.
"Saya agak terkejut mereka sudah bergerak begitu cepat ke arah itu," kata Hassabis dalam sebuah wawancara dengan Axios, dikutip pada Jumat, 23 Januari. Jika perusahaan salah langkah, kepercayaan pengguna terhadap chatbot dinilai akan terganggu.
Hassabis menjelaskan bahwa model asisten AI sangat berbeda dengan mesin pencari biasa yang marak dipenuhi konten promosi. Asisten digital dirancang untuk bekerja secara personal demi kepentingan individu penggunanya masing-masing.
Ia pun mempertanyakan bagaimana iklan bisa masuk ke dalam model asisten tanpa merusak kredibilitas informasi yang diberikan. Jika asisten AI berubah menjadi alat periklanan, nilai gunanya dinilai akan turun secara drastis bagi penggunanya.
BACA JUGA:
Meski iklan merupakan fondasi utama dari bisnis Google, Hassabis menegaskan bahwa timnya tidak merasa tertekan atau bahkan terdorong untuk melakukan hal yang sama. Google memilih untuk mempertimbangkan keputusan monetisasi AI dengan sangat teliti.
Saat ini, Google tidak memiliki rencana jangka pendek untuk memasukkan iklan ke dalam Gemini, chatbot AI milik mereka. Perusahaan akan terus memantau respons pengguna terhadap eksperimen iklan yang dilakukan oleh pihak lain.
Google juga tengah fokus dalam meningkatkan kemampuan personalisasi Gemini agar lebih bermanfaat bagi penggunanya. Fokus utama Google masih pada pengembangan teknologi AI yang mampu membantu aktivitas harian dengan lebih cerdas.
CEO Google DeepMind Demis Hassabis (Dok. Google)