Bagikan:

JAKARTA - Biaya produksi prosesor iPhone 18 diperkirakan akan melonjak tajam. Laporan rantai pasok menyebutkan chip A20 milik Apple bisa menelan biaya hingga sekitar 280 dolar AS per unit, atau hampir dua kali lipat dibandingkan chip A19 generasi sebelumnya. Kenaikan ini disebut sebagai lonjakan biaya tahunan terbesar dalam sejarah prosesor iPhone.

Apple diperkirakan akan memproduksi chip A20 menggunakan proses manufaktur 2 nanometer milik TSMC. Transisi ke teknologi fabrikasi terbaru ini menjanjikan peningkatan signifikan pada performa dan efisiensi daya, namun di sisi lain membawa tantangan produksi serta biaya manufaktur yang jauh lebih tinggi.

Sebelumnya, laporan awal memperkirakan kenaikan biaya A20 tidak akan sebesar ini. Namun, proyeksi terbaru menunjukkan angka yang lebih tinggi seiring berlanjutnya kendala produksi pada tahap awal proses 2 nanometer. Yield generasi pertama dinilai masih rapuh, sementara teknologi pengemasan chip yang semakin kompleks serta kenaikan harga memori turut mendorong biaya keseluruhan.

Secara historis, Apple dikenal bersedia menanggung biaya manufaktur awal yang lebih mahal demi mengamankan akses ke teknologi fabrikasi paling mutakhir. Peralihan ke proses 5 nanometer dan 3 nanometer sebelumnya memberikan keunggulan kompetitif, meski tanpa lonjakan biaya sebesar yang diperkirakan terjadi pada 2 nanometer.

Teknologi 2 nanometer membawa perubahan besar dengan diperkenalkannya transistor nanosheet atau gate-all-around (GAA). Berbeda dengan desain transistor lama, GAA memungkinkan gate mengelilingi kanal silikon sepenuhnya, sehingga aliran listrik dapat dikontrol lebih presisi. Hasilnya adalah efisiensi daya yang lebih baik dan kepadatan transistor yang lebih tinggi, meski proses pembuatannya jauh lebih sulit pada skala besar.

Bagi pengguna iPhone, manfaat praktis dari teknologi ini diharapkan terlihat pada performa yang lebih stabil serta daya tahan baterai yang lebih baik, terutama seiring meningkatnya beban kerja kecerdasan buatan di dalam perangkat. Fitur fotografi, kecerdasan sistem, dan pemrosesan AI lokal semakin bergantung pada kemampuan silikon mentah, bukan sekadar optimalisasi perangkat lunak.

TSMC saat ini dipandang sebagai pilihan paling aman untuk produksi massal awal chip 2 nanometer. Hal ini membuat Apple, bersama Qualcomm dan MediaTek, bergantung pada kapasitas awal TSMC. Apple disebut akan menyerap porsi besar dari produksi awal tersebut, meski rincian alokasi kapasitas belum dikonfirmasi secara resmi.

Di sisi lain, Samsung juga tengah mengembangkan proses 2 nanometer berbasis GAA untuk chip Exynos 2600. Meski divisi foundry Samsung masih menghadapi tantangan konsistensi pada node sebelumnya, keberadaan alternatif tetap memberikan tekanan kompetitif bagi TSMC.

Pertanyaan yang kini muncul adalah apakah kenaikan biaya silikon ini akan berhenti pada tingkat chip saja, atau pada akhirnya berdampak pada harga jual iPhone di pasaran, seiring matangnya produksi 2 nanometer dalam beberapa tahun ke depan.