Bagikan:

JAKARTA - Meskipun sering dikritik karena terlambat dalam perlombaan kecerdasan buatan, pendekatan konservatif Apple terhadap AI justru bisa menjadi keunggulan besar perusahaan di tahun 2026.

Laporan dari The Information menilai bahwa strategi Apple yang lebih berhati-hati dalam menggelontorkan dana untuk infrastruktur AI—seperti pusat data dan chip khusus—memberikan posisi finansial yang jauh lebih kuat dibandingkan para pesaingnya.

Sementara Meta dan Google telah menghabiskan ratusan miliar dolar untuk membangun pusat data dan chip AI, Apple masih menyimpan cadangan kas sekitar 130 miliar dolar yang dapat digunakan untuk investasi AI di masa mendatang.

Perusahaan asal Cupertino ini juga tidak melakukan akuisisi besar-besaran terkait AI sepanjang tahun 2025, sehingga terhindar dari pengeluaran besar dengan hasil pendapatan jangka pendek yang minim seperti yang dialami beberapa kompetitor.

Selain itu, Apple dikabarkan berencana menghadirkan fitur-fitur berbasis Google Gemini di tahun 2026. Dengan memanfaatkan model dari pihak ketiga, Apple memiliki fleksibilitas lebih besar untuk mengalokasikan dana ke akuisisi AI strategis sepanjang tahun tersebut.

Di sisi lain, tim internal Apple masih terus mengembangkan model-model sendiri meskipun terjadi beberapa pergerakan personel sepanjang tahun. Namun, sebagian pimpinan perusahaan memandang bahwa large language model (LLM) akan menjadi komoditas di tahun-tahun mendatang, sehingga sulit untuk membenarkan pengembangan model internal dalam skala besar.

Laporan tersebut juga menyoroti keunggulan iPhone sebagai "wadah" ideal untuk menghadirkan fitur-fitur AI. Meskipun teknologi AI kini tersedia di berbagai perangkat—dari ponsel Android hingga PC Windows—iPhone dianggap memiliki ekosistem, pengalaman pengguna, dan tingkat adopsi yang membuatnya sangat cocok sebagai platform utama untuk inovasi AI.

Perubahan strategi AI Apple juga terlihat dari keputusan pensiunnya kepala AI, John Giannandrea. Kini, upaya AI perusahaan berada di bawah kendali Mike Rockwell, yang sebelumnya dikenal sebagai pemimpin pengembangan Apple Vision Pro.

Meski demikian, masih harus dilihat apakah pendekatan ini benar-benar akan membuahkan hasil di 2026. Pertanyaan lain yang menggantung adalah apakah LLM akan tetap menjadi pusat perhatian seperti sekarang, atau justru gelembung AI akan pecah di tahun-tahun mendatang.

Dengan strategi "lambat tapi pasti", Apple berharap dapat menghindari jebakan pengeluaran berlebihan yang dialami pesaing, sambil tetap memanfaatkan kekuatan ekosistem dan cadangan finansial yang sangat besar untuk bersaing di era AI.