JAKARTA - Dalam 24 jam terakhir, Bitcoin (BTC) anjlok 1,48% bergerak di 91.380 dolar AS atau setara Rp1,52 miliar setelah sempat mencapai level 94.470 dolar AS, setara dengan Rp1,57 miliar.
Pergerakan ini merupakan respon dari Bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed) yang memenuhi ekspektasi pasar dengan memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps), menempatkannya di kisaran 3,50-3,75%.
Pengumuman ini disampaikan setelah pertemuan FOMC selama dua hari. Pemangkasan ini merupakan yang ketiga sepanjang tahun 2025, dan menjadikan suku bunga di level terendah sejak September 2022.
"Secara umum, suku bunga yang lebih rendah dapat mendorong aset berisiko (risk-on assets) seperti Bitcoin (BTC). Namun, menurut data CME Group, hanya 24,4% trader yang memproyeksikan adanya pemotongan suku bunga lagi pada pertemuan FOMC Januari 2026," kata Financial Expert Ajaib, Panji Yudha.
Bersamaan dengan itu, di tengah keputusan kebijakan moneter ini, perubahan kebijakan moneter dan dinamika kepemimpinan di bank sentral AS juga menjadi sorotan pasar. Di mana Presiden AS Donald Trump sedang mempertimbangkan pengganti Powell.
Kevin Hassett, Direktur Dewan Ekonomi Nasional (NEC) dan mantan penasihat Dewan Penasihat Akademik dan Regulasi Coinbase, dilaporkan akan menjadi kandidat terdepan untuk posisi Ketua The Fed.
SEE ALSO:
Sementara itu, di Indonesia sendiri, kontribusi pajak dari aset kripto terus meningkat. Data Direktorat Jenderal Pajak (DJP) hingga 31 Oktober 2025 mencatat total setoran pajak dari sektor ekonomi digital mencapai Rp43,75 triliun.
"Dari total tersebut, aset kripto menyumbang Rp1,76 triliun dalam empat tahun pelaporan. Kontribusi dari kripto ini terdiri dari PPh 22 dan PPN dalam negeri," jelas Panji lebih lanjut.
Hari ini, Panji memprediksi Bitcoin berpotensi bergerak di sekitar 90.000 - 92.000 dolar AS (Rp1,5 - Rp1,53 miliar). Ethereum berpotensi bergerak di sekitar 3.000 - 3.200 dolar AS (Rp50 - Rp53 juta).