Bagikan:

JAKARTA  — Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, mengumumkan pembangunan fasilitas produksi super magnet senilai 600 juta ringgit (sekitar Rp2,3 triliun) di negara bagian Pahang. Proyek strategis ini diharapkan menjadi pendorong utama penguatan sektor logam tanah jarang (rare earth) Malaysia, sebagaimana dilaporkan oleh kantor berita negara, Bernama.

Menurut Anwar, proyek tersebut akan memperkuat posisi Malaysia dalam industri material canggih dan teknologi bersih, sekaligus mendukung upaya negara membangun rantai pasok mineral kritis yang selama ini bergantung pada impor. “JS Link sudah membeli lahan dan siap memulai operasi. Ini bukan lagi sekadar nota kesepahaman. Investasi sudah masuk, lahan sudah siap, sekarang kita fokus mempercepat prosesnya,” kata Anwar seperti dikutip Bernama pada Sabtu, 1 November.

Pabrik super magnet tersebut akan dikembangkan oleh perusahaan Australia Lynas Rare Earths Ltd bersama mitranya dari Korea Selatan, JS Link Co Ltd, yang telah menandatangani perjanjian kerja sama pada Juli 2025. Fasilitas baru ini akan memiliki kapasitas produksi mencapai 3.000 ton magnet neodymium per tahun, dan akan berlokasi di dekat pabrik material lanjutan milik Lynas di distrik Kuantan, Pahang.

Anwar menegaskan bahwa proyek ini akan berada di bawah pengawasan langsung Kementerian Perdagangan Internasional dan Industri Malaysia, mengingat keterlibatan sektor pengolahan logam tanah jarang yang strategis dan sensitif. “Proyek ini bukan hanya akan menciptakan lapangan kerja baru, tetapi juga memperkuat kemampuan Malaysia di sektor teknologi tinggi dan energi bersih,” ujarnya.

Langkah ini menjadi bagian dari strategi besar pemerintah Malaysia untuk mengembangkan potensi logam tanah jarang nasional. Berdasarkan data pemerintah, Malaysia memiliki cadangan logam tanah jarang mencapai 16,1 juta metrik ton. Namun, hingga kini negara tersebut masih kekurangan teknologi dan infrastruktur untuk menambang serta mengolah sumber daya tersebut secara efisien.

Malaysia tengah gencar menjalin kemitraan internasional guna menarik investasi asing dan alih teknologi. Selain menggandeng Australia dan Korea Selatan, pemerintah juga dilaporkan tengah bernegosiasi dengan China terkait pengolahan logam tanah jarang. Bulan lalu, Malaysia juga menandatangani kesepakatan dengan Amerika Serikat untuk memperluas kerja sama dalam diversifikasi rantai pasok mineral kritis.

Logam tanah jarang seperti neodymium merupakan komponen penting dalam berbagai industri teknologi tinggi, termasuk kendaraan listrik (EV), semikonduktor, turbine angin, hingga sistem persenjataan canggih. Permintaan global terhadap material ini terus meningkat seiring dorongan transisi energi dan revolusi industri hijau di berbagai negara.

Dengan proyek magnet super senilai lebih dari Rp2,3 triliun ini, Malaysia berharap dapat memperkuat perannya dalam rantai pasok global logam tanah jarang, sekaligus mengurangi ketergantungan pada negara lain dalam pasokan material strategis.