Bagikan:

JAKARTA-Meta Platforms Inc. (induk Facebook dan Instagram) memproyeksikan lonjakan besar dalam belanja modal tahun depan seiring Mark Zuckerberg menegaskan ambisi membangun infrastruktur kecerdasan buatan (AI) berskala super.

Chief Financial Officer Meta, Susan Li, menyatakan pengeluaran modal (capex) 2026 akan meningkat signifikan karena perusahaan tengah mempercepat pembangunan pusat data untuk menopang ekspansi AI. “Kami melihat pengeluaran yang jauh lebih besar tahun depan, terutama untuk memperkuat kapasitas komputasi AI,” ujarnya.

Pada kuartal ketiga 2025, pendapatan Meta tumbuh 26 persen, melampaui perkiraan analis. Namun, biaya perusahaan justru melonjak 32 persen, membuat margin laba tertekan. Harga saham Meta, yang telah naik 28 persen sepanjang tahun ini, anjlok 8 persen usai penutupan bursa setelah Wall Street mencerna rencana besar Zuckerberg yang dinilai bakal menekan profit jangka pendek.

Meta juga mencatat beban satu kali hampir 16 miliar dolar AS akibat kebijakan fiskal “Big Beautiful Bill” dari Presiden Donald Trump yang menekan laba bersih kuartalan menjadi 2,71 miliar dolar. Tanpa beban tersebut, laba bersih seharusnya mencapai 18,64 miliar dolar.

Zuckerberg: Bangun Dulu, Panen Nanti

Dalam panggilan dengan analis, Zuckerberg menegaskan visinya untuk “menghadapi masa depan AI dengan agresif.” Ia mengungkapkan keyakinan bahwa membangun kapasitas komputasi secara cepat adalah strategi terbaik untuk mengantisipasi skenario paling optimistis menuju superintelligence—tahap teoritis di mana mesin melampaui kecerdasan manusia.

“Kalau superintelligence datang lebih lambat, kapasitas komputasi ekstra itu akan mempercepat bisnis inti kami. Kalau terlalu cepat, kami sudah siap. Kalau terlalu lama, kami bisa menahan pembangunan sementara,” jelasnya dengan nada pragmatis.

Analis Emarketer, Jeremy Goldman, menilai Meta kini telah menemukan kembali momentumnya. “Setelah beberapa tahun penuh kebingungan eksistensial, Meta kembali ke DNA-nya: memperbesar atensi dan memonetisasinya dengan efisiensi brutal. Sementara pesaing lain masih berandai-andai soal ‘AI moonshot’, Meta sudah mengubah AI jadi margin nyata,” katanya.

Hiring Gila-Gilaan dan Pusat Data Raksasa

Meta pada Juni lalu membentuk divisi baru bernama Superintelligence Labs untuk memusatkan riset AI. Zuckerberg memimpin langsung perekrutan besar-besaran talenta AI global, membuat gaji pegawai menjadi komponen kedua terbesar dari kenaikan biaya tahun depan.

“Kami sudah membangun laboratorium dengan kepadatan talenta tertinggi di industri ini,” kata Zuckerberg. “Dan kami juga sedang menyiapkan jumlah komputasi terbesar yang pernah ada.”

Meta menjadi salah satu pembeli utama chip AI Nvidia, bersaing ketat dengan Microsoft, Alphabet, Amazon, dan OpenAI dalam membangun pusat data superbesar. Laju pembangunan ini telah menimbulkan kekhawatiran akan terbentuknya “gelembung AI”, karena masing-masing raksasa teknologi berlomba menanam modal ratusan miliar dolar untuk kapasitas komputasi.

CEO OpenAI Sam Altman bahkan mengungkap keinginan menambah kapasitas 1 gigawatt komputasi per minggu—setara lebih dari 40 miliar dolar untuk tiap unit gigawatt.

Meta menaikkan batas bawah proyeksi belanja modal 2025 dari 66 miliar menjadi 70–72 miliar dolar AS.

Basis Pengguna Masif, Mesin Iklan Kian Tajam

Di sisi bisnis inti, Meta masih menikmati keuntungan dari basis pengguna raksasa: lebih dari 3,5 miliar orang memakai minimal satu aplikasi Meta setiap hari.

Platform iklan berbasis AI miliknya kini mampu mengotomasi kampanye, menerjemahkan iklan lintas bahasa, dan menciptakan gambar persona sesuai target pasar. Inovasi ini memperkuat pendapatan iklan dari WhatsApp dan Threads, sekaligus menantang dominasi X (milik Elon Musk), TikTok, dan YouTube Shorts.

Untuk kuartal keempat, Meta memperkirakan pendapatan antara 56 hingga 59 miliar dolar AS—sedikit di atas perkiraan analis yang rata-rata memproyeksikan 57,25 miliar dolar, menurut data LSEG.

Pengamat pasar Jesse Cohen menyebut, “Laporan keuangan Meta menunjukkan tarik-menarik antara investasi masif pada AI dan tekanan investor untuk hasil cepat. Tapi fondasi bisnisnya tetap solid.”

Zuckerberg tampaknya tak gentar. Di tengah pasar yang masih menimbang risiko gelembung AI, Meta justru menyiapkan diri untuk menjadi pusat gravitasi baru ekonomi digital berbasis superintelligence.

Langkah Meta ini mempertegas tren besar di Wall Street: semakin banyak uang, chip, dan pusat data dipacu untuk satu tujuan — menjadikan AI bukan sekadar alat bantu, melainkan otak masa depan