JAKARTA - Meta Platform Inc., kembali dikabarkan akan melakukan restrukturisasi besar pada divisi kecerdasan buatan (AI)-nya, yang keempat kalinya hanya dalam kurun waktu enam bulan terakhir. Kabar ini pertama kali dilaporkan oleh The Information pada Jumat 15 Agustus, mengutip tiga sumber yang mengetahui langsung rencana dari perusahaan asal Silicon Valley ini.
Menurut laporan itu, Meta berencana membagi unit baru yang dinamakan Superintelligence Labs ke dalam empat kelompok utama. Pertama, sebuah tim baru yang dinamakan “TBD Lab” (to be determined), kedua tim produk yang mencakup asisten Meta AI, ketiga tim infrastruktur, dan keempat laboratorium Fundamental AI Research (FAIR) yang fokus pada penelitian jangka panjang.
Meta tidak segera memberikan komentar ketika dimintai tanggapan atas laporan tersebut.
BACA JUGA:
Restrukturisasi ini dilakukan di tengah memanasnya persaingan AI di Silicon Valley. CEO Meta, Mark Zuckerberg, disebut semakin serius mendorong pengembangan artificial general intelligence (AGI) — mesin yang mampu berpikir melebihi manusia — sekaligus mencari sumber pemasukan baru bagi perusahaan.
Sebelumnya, Meta sudah menyatukan seluruh upaya AI-nya ke dalam Superintelligence Labs setelah menerima respons yang kurang memuaskan terhadap model open-source terbarunya, Llama 4, serta terjadinya sejumlah pengunduran diri staf senior.
Selain restrukturisasi, Meta juga tengah melakukan ekspansi besar-besaran untuk mendukung pengembangan AI. Perusahaan bekerja sama dengan raksasa obligasi AS PIMCO dan manajer aset alternatif Blue Owl Capital untuk memimpin pembiayaan senilai 29 miliar dolar AS (sekitar Rp473 triliun) guna membangun pusat data baru di pedesaan Louisiana.
Pada Juli lalu, Zuckerberg menyatakan bahwa Meta siap menggelontorkan ratusan miliar dolar AS demi pembangunan beberapa pusat data AI raksasa. Perusahaan juga menaikkan batas bawah proyeksi belanja modal tahunan sebesar 2 miliar dolar AS, menjadi kisaran 66 miliar hingga 72 miliar dolar AS (Rp1.078 – Rp1.176 triliun).
Namun, biaya yang terus melonjak untuk infrastruktur pusat data dan gaji pegawai — terutama karena Meta banyak merekrut peneliti dengan bayaran tinggi — diperkirakan akan membuat pertumbuhan biaya operasional pada 2026 melampaui laju pertumbuhan tahun 2025.