JAKARTA – Ketua Komite Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk China menilai bahwa perjanjian lisensi terkait penggunaan algoritma TikTok dapat menimbulkan kekhawatiran di masa depan.
Ada dugaan bahwa algoritma ini akan tetap dipengaruhi oleh China meski Perwakilan Partai Republik, John Moolenaar, masih menunggu pengarahan mengenai kesepakatan tersebut. Sebelumnya, pejabat Gedung Putih menyatakan bahwa algoritma ByteDance akan dilisensikan oleh pemilik aset TikTok terbaru.
Moolenaar, melansir dari Reuters, mengatakan bahwa ia prihatin bahwa China masih memengaruhi teknologi inti dari aplikasi video tersebut. Menurutnya, "Kapan pun Anda memiliki (China) pengaruh atas algoritma tersebut, saya pikir itu akan menjadi masalah."
Presiden Donald Trump telah menandatangani perintah eksekutif pada 25 September 2025. Dalam perintah tersebut, Trump menyatakan bahwa rencana penjualan TikTok di AS akan memenuhi persyaratan keamanan nasional yang ditetapkan dalam undang-undang tahun 2024.
Berkaitan dengan kesepakatan penjualan aset TikTok, Moolenaar berpendapat bahwa algoritma TikTok perlu diganti sepenuhnya, bukan hanya sekadar dilisensikan. Ini perlu dilakukan untuk memastikan keamaan perangkat dan data penggunanya.
BACA JUGA:
"Saya hanya percaya kita harus punya algoritma baru dan saya tidak yakin kita bisa memprogram ulang (algoritma TikTok)," jelas Moolenaar.
Sejak beberapa bulan lalu, perjanjian lisensi algoritma masih menjadi perdebatan di AS. Salah satu yang menjadi perdebatan adalah algoritma yang cukup penting dalam mengatur pengalaman 170 juta warga Amerika.
Algoritma ini menjadi perhatian oleh anggota DPR sejak lama karena mereka khawatir dengan pengaruh asing, khususnya China. Dalam informasi terbaru, TikTok di AS akan memiliki tujuh anggota dewan baru yang terdiri dari enam warga Amerika dan satu berasal dari ByteDance.