JAKARTA – Microsoft mengumumkan bahwa mereka telah membeli tenaga surya sebesar 100 megawatt (MW). Tenaga surya ini dibeli dari perusahaan pengembang energi terbarukan bernama Shizen Energy.
Kesepakatan ini mencakup produksi energi selama 20 tahun dari empat pembangkit listrik tenaga surya yang berbeda. Dari keempat proyek tersebut, satu telah beroperasi penuh, sedangkan tiga pembangkit listrik lainnya masih dalam tahap pembangunan.
Akuisisi ini merupakan langkah strategis untuk mencapai target emisi nol bersih. Saat ini, Microsoft telah mengoperasikan dua pusat data di Jepang. Kapasitas komputasi di negara tersebut dijadwalkan akan meningkat secara signifikan.
Peningkatan ini akan didorong oleh rencana investasi besar 2,9 miliar dolar AS (Rp48 triliun) pada tahun depan. Oleh karena itu, Microsoft perlu mengadopsi lebih banyak tenaga surya untuk menekan emisi yang mereka keluarkan.
BACA JUGA:
Tenaga surya selalu dipilih perusahaan teknologi atau operator pusat data saat mereka berusaha menekan pengeluaran emisi. Sumber energi dipercaya menawarkan kecepatan dan efektivitas biaya dalam pembangunan.
Biasanya, proyek tenaga surya akan selesai dalam waktu 18 bulan. Selain karena biayanya yang lebih murah, tenaga surya juga menawarkan keuntungan karena listriknya bisa digunakan sebelum proyeknya selesai dibangun.
Kesepakatan terbaru ini hanya salah satu upaya Microsoft dalam mendorong pengoperasian infrastruktur yang ramah energi. Awal tahun ini, perusahaan tersebut juga mengontrak lebih dari 1 gigawatt (GW) kapasitas energi surya secara global.