JAKARTA - Google resmi menghadirkan fitur deteksi ransomware berbasis kecerdasan buatan (AI) di Google Drive untuk meningkatkan keamanan data pengguna dan organisasi. Teknologi ini dirancang untuk mencegah korupsi file akibat serangan siber dengan cara menghentikan sinkronisasi mencurigakan, memberikan peringatan, serta menawarkan proses pemulihan yang lebih mudah dibandingkan dengan layanan pihak ketiga yang mahal.
Ransomware sendiri dikenal sebagai salah satu bentuk serangan siber paling berbahaya. Jenis serangan ini bekerja dengan mengunci sistem dan mengenkripsi file, lalu penyerang menuntut tebusan agar korban bisa mendapatkan kembali akses ke datanya. Dalam banyak kasus, serangan ini dilengkapi dengan batas waktu yang membuat data berisiko hilang selamanya jika tebusan tidak dibayar.
Google menjelaskan bahwa pihaknya telah membangun model AI khusus yang dilatih menggunakan jutaan sampel ransomware nyata. Sistem ini mampu mendeteksi tanda-tanda file yang dimodifikasi secara berbahaya, sekaligus beradaptasi dengan varian ransomware baru melalui analisis berkelanjutan terhadap perubahan file dan integrasi intelijen ancaman dari VirusTotal.
BACA JUGA:
“Ketika Drive mendeteksi aktivitas tidak biasa yang mengindikasikan adanya serangan ransomware, sistem akan otomatis menghentikan sinkronisasi file yang terdampak untuk mencegah kerusakan data meluas dan mengganggu pekerjaan,” tulis Google dalam keterangan resminya.
Setelah itu, pengguna akan menerima peringatan melalui email yang berisi panduan untuk memulihkan file mereka. Google menegaskan bahwa proses ini dibuat lebih mudah dan intuitif dibandingkan solusi pihak ketiga yang kerap rumit serta mahal.
Saat ini, fitur deteksi ransomware berbasis AI di Google Drive masih tersedia dalam tahap uji coba terbuka (open beta). Nantinya, teknologi ini akan digulirkan ke sebagian besar paket komersial Google Workspace tanpa biaya tambahan.
Kehadiran fitur ini diharapkan dapat memberikan perlindungan ekstra bagi individu maupun organisasi, terutama di tengah meningkatnya kasus serangan ransomware yang kerap menyasar lembaga vital seperti rumah sakit maupun institusi pemerintah.