JAKARTA - Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid berharap pembatasan akses siaran langsung TikTok di Indonesia tidak berlangsung lama, mengingat banyak UMKM yang memanfaatkan fitur ini untuk berjualan.
Ia juga kembali menegaskan bahwa pembatasan ini dilakukan atas inisiatif dari perusahaan asal China itu sendiri, bukan karena adanya permintaan dari pemerintah.
“Disampaikan bahwa live TikTok itu kami pun melihat dari pemberitahuan yang dilakukan oleh TikTok, bahwa mereka melakukan secara sukarela untuk penutupan fitur live dan kami justru berharap bahwa ini berlangsung tidak lama,” kata Meutya dalam keterangannya dalam sebuah video di akun Instagram @duniameutya.
Karena menurutnya, meski UMKM masih bisa melakukan aktivitas e-commerce tanpa fitur live, keterbatasan tersebut berpotensi mengurangi ruang mereka dalam menjangkau konsumen.
Maka dari itu, ia berharap, jika keadaan sudah berangsur membaik, fitur siaran langsung dapat kembali seperti sedia kala.
“Kita memahami bahwa ada UMKM yang terdampak untuk berjualan secara live tapi mudah-mudahan tetap bisa melakukan e-commerce meskipun tanpa live,” tuturnya lebih lanjut.
Fitur siaran langsung TikTok diketahui tidak dapat diakses di Indonesia sejak Sabtu, 30 Agustus malam. Ketika dikonfirmasi, Direktur Jenderal Pengawasan Ruang Digital Alexander Sabar mengatakan pembatasan itu atas kehendak TikTok sendiri.
BACA JUGA:
TikTok juga mengonfirmasi kabar tersebut. Mereka menyebutkan, pembatasan ini dilakukan karena meningkatnya konten meningkatnya kekerasan dalam aksi unjuk rasa di Indonesia.
“Kami mengambil langkah-langkah pengamanan tambahan untuk menjaga TikTok tetap menjadi ruang yang aman dan beradab. Sebagai bagian dari langkah ini, kami secara sukarela menangguhkan fitur TikTok LIVE selama beberapa hari ke depan di Indonesia,” kata juru bicara TikTok.