JAKARTA – Sejumlah astronot di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS), yang bergabung dalam Ekspedisi 73, melakukan penelitian ilmiah untuk mengamati respons tubuh manusia selama berada di antariksa.
Ada sejumlah eksperimen yang dilakukan dan beberapa di antaranya fokus pada dampak mikrogravitasi terhadap mata, otak, dan sistem peredaran darah. Salah satu eksperimen dilakukan dengan memeriksa mata di modul laboratorium Columbus.
Eksperimen ini dilakukan oleh Astronot NASA Mike Fincke dan Zena Cardman. Dengan memeriksa mata mereka, keduanya berusaha mengidentifikasi potensi perubahan anatomi dan fungsi mata yang disebabkan oleh ruang angkasa.
Di laboratorium tersebut, Fincke mengoperasikan peralatan medis untuk mengirimkan sinyal ke elektroda yang terpasang di dahi dan sekitar mata Cardman. Peralatan tersebut digunakan untuk mengukur bagaimana retina merespons cahaya.
Dengan begitu, Fincke dapat memberikan wawasan tentang adaptasi visual astronaut terhadap gayaberat mikro. Di sisi lain, Astronot NASA Jonny Kim menjalani tes untuk memantau bagaimana indra keseimbangan, arah, dan ingatan beradaptasi dengan kondisi tanpa bobot.
BACA JUGA:
Tes ini dilakukan dengan mengumpulkan sampel darah dan urin sebagai prosedur standar studi CIPHER untuk dianalisis. Setelah itu, Kim akan menggunakan perangkat lunak kognisi spasial di laptopnya. Data dari tes ini dapat membantu dokter melacak perubahan fungsi otak.
Hasil penelitian ini dapat membantu para peneliti merancang perangkat canggih seperti alat pemindaian otak untuk melindungi astronot selama misi luar angkasa jangka panjang. Penelitian ilmiah lainnya dilakukan oleh Kosmonot Roscosmos Sergey Ryzhikov dan Alexey Zubritsky.
Keduanya melakukan studi sistem mikrosirkulasi dengan menggunakan sensor. Alat ini dapat mengukur aliran darah ke pembuluh darah kecil di tangan, kaki, dan jari. Data yang dikumpulkan akan membantu para dokter dalam menyempurnakan metode dan mengembangkan alat.