JAKARTA – Modus kejahatan di sektor perbankan semakin berkembang berkat peningkatan teknologi. Jika dulu kejahatannya masih sederhana dan mudah diatasi, ini modusnya sudah mengancam banyak pihak.
Menurut penjelasan ADVANCE.AI, perusahaan Kecerdasan Buatan (AI) yang berpusat di Singapura, evolusi serangan teknologi di bagian finansial sudah banyak berkembang. Dari yang hanya 2D, kini menjadi Artificial Intelligence Generated Content (AIGC) atau deepfake.
Beberapa tahun yang lalu, modus serangan 2D masih sering ditemui. Jenis serangan seperti ini biasanya hanya memanfaatkan salinan foto yang dicetak untuk melewati verifikasi data, seolah-olah pelakunya adalah orang asli yang melakukan transaksi.
Selanjutnya, kejahatan mulai mengarah ke serangan 3D. Model kejahatan ini lebih canggih di mana pelaku kejahatan membuat topeng yang sangat realistis dengan wajah seseorang, lengkap dengan detail mata yang dapat berkedip.
Biasanya, topeng ini berbahan silikon agar dapat menciptakan ilusi manusia yang sungguhan. Namun, dua metode tersebut sudah hampir tidak ditemukan lagi saat ini karena deepfake dianggap lebih mutakhir.
BACA JUGA:
"Serangan paling mutakhir saat ini adalah deepfake," ungkap Anggraini Rahayu, Country General Manager ADVANCE.AI. "Teknologi ini jauh lebih canggih karena didukung oleh AI yang berkembang pesat."
Anggraini menjelaskan bahwa data seperti foto Kartu Tanda Penduduk (KTP) bisa ditemukan dengan mudah di internet, misalnya di dark web. Kemudian, dengan bantuan teknologi AI, foto KTP ini diolah agar terlihat realistis dan asli.
Foto KTP yang sudah dimanipulasi itu kemudian ditempelkan pada wajah penipu. Hasilnya, penipu akan tampak seperti orang dalam KTP yang mereka curi. Jika bank tidak meningkatkan sistem verifikasinya, mereka dapat tertipu dengan metode ini.