JAKARTA - Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) telah menyiapkan kurikulum mata pelajaran kecerdasan buatan (AI) maupun coding untuk siswa.
Kurikulum ini dirancang untuk memberikan dampak positif kepada peserta didik, seperti kemampuan berpikir logis dan analitis. Serta memberikan pemahaman tidak hanya tentang teknologi, tetapi tentang tanggung jawab etisnya.
Menggapi kurikulum AI untuk pelajar, CEO Hactiv8, Juventia Vicky Riana menekankan pentingnya pemahaman dasar dan pola pikir digital ketimbang hanya mengenalkan alat atau perangkat lunak tertentu.
“Digitalisasi itu bukan sekadar menguasai tools, tapi mindset. Kenapa kita harus go digital, apa yang harus dilakukan, dan pendekatan apa yang harus kita ambil,” kata Vicky dalam acara peluncuran IBM SkillsBuild Developer Initiative pada Kamis, 17 Juli di kantor IBM, Jakarta.
Menurut Vicky, pengenalan AI harus disesuaikan dengan tingkat usia dan pemahaman peserta didik. Ia mencontohkan, pada jenjang SD cukup dikenalkan pada konsep dasar dan manfaat teknologi, termasuk melalui media interaktif seperti permainan.
Selain itu, Vicky juga menyoroti pentingnya menyampaikan materi secara bertahap dan sesuai konteks. Karena menurutnya, kompleksitas suatu pembahasan baik itu AI atau coding memiliki tingkat perbedaan level.
BACA JUGA:
“Kalau saya ketemu anak SD, saya ajarkan itu adalah, bagaimana sih build a game. Saat masuk anak umur 12 tahun ke atas, how to build a game with Minecraft, how to code with Minecraft. Itu disesuaikan dengan umurnya ,” jelasnya.
Ia menyadari bahwa tools dan platform AI akan terus berkembang, dan apa yang relevan hari ini bisa jadi tak lagi efektif di masa depan. Karena itu, mindset untuk terus belajar menjadi hal krusial.
“Toolsnya akan terus bertambah, kompleksitasnya juga akan bertambah. Yang penting adalah membentuk pola pikir bahwa teknologi akan terus berkembang,” tandas Vicky.