JAKARTA - Bitcoin kembali melonjak mendekati level 105.000 dolar AS (Rp1,73 miliar), dan bertengger di level 102.000 dolar AS (Rp1,68 miliar) pada Kamis, 15 Mei.
Merespon hal tersebut, Analyst Reku, Fahmi Almuttaqin mengatakan bahwa meskipun di tengah ketidakpastian akibat kebijakan dagang Presiden Trump, kondisi ekonomi AS yang masih cukup solid.
Dari sisi kebijakan, kesepakatan dagang terbaru AS dengan Inggris dan China, serta pelonggaran tarif barang bernilai rendah dari China, turut memberi sinyal positif bagi pasar kripto
“Namun, investor terlihat masih cukup berhati-hati di tengah tren positif yang terjadi saat ini. Investor tradisional AS juga terlihat melakukan profit taking dan hold pada investasi Bitcoin mereka,” jelas Fahmi.
Meskipun tren positif yang ada khususnya di pasar kripto masih terlihat cukup solid, Fahmi mengatakan area harga 106.000 dolar AS (Rp1,75 miliar) berpotensi menjadi resistance yang cukup sulit untuk dilewati.
Apalagi di tengah potensi kenaikan inflasi dan perlambatan pertumbuhan ekonomi akibat kebijakan tarif Trump yang masih membayangi optimisme pasar saat ini.
“Perkembangan lebih lanjut terkait kebijakan perdagangan AS yang lebih akomodatif, disahkannya kebijakan pro-kripto AS, serta optimisme The Fed untuk menurunkan suku bunga, merupakan beberapa contoh potensi katalis baru yang mungkin dapat berkembang ke depan,” imbuh Fahmi.
BACA JUGA:
Melihat situasi yang ada, terdapat beberapa opsi yang mungkin dapat dipertimbangkan oleh para investor sesuai dengan preferensi dan tujuan investasinya masing-masing.
“Bagi investor yang cenderung konservatif, situasi saat ini dapat dimanfaatkan untuk mengamankan profit. Sedangkan bagi para investor yang memiliki tujuan jangka panjang, strategi hold atau bahkan buy more,” ungkapnya.