JAKARTA - Google telah berkali-kali menentang keras usulan Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ) terkait Google yang dipaksa berpisah dari Chrome dengan menjual browser-nya ke perusahaan lain.
Dalam pernyataan terbarunya, Lee-Anne Mulholland, Vice President Regulatory Affairs Google mengatakan bahwa usulan tersebut justru akan menghambat inovasi, membahayakan privasi pengguna.
Mulholland jelas mengatakan kalau rencana pemisahan Chrome dari Google, disebut sebagai langkah yang bisa merusak banyak layanan lain.
“Chrome terintegrasi secara mendalam dengan infrastruktur Google. Memisahkannya bukan hanya membuat Chrome rentan, tapi juga membahayakan keamanan miliaran pengguna internet di seluruh dunia,” ujar pemimpin Chrome, Parisa Tabriz.
Ia menambahkan, pemisahan peramban ini justru akan memungkinkan Chrome menjadi “tidak aman dan ketinggalan zaman.”
BACA JUGA:
Bahkan, Kepala keamanan siber Google, Heather Adkins, telah memperingatkan bahwa memisahkan Chrome dari sistem keamanan Google akan membuat miliaran orang rentan terhadap serangan siber.
Untuk kasus ini, Google pun telah meminta pendapat dari seorang profesor dari Universitas Columbia, Jason Nieh. Ia bersaksi pemisahan ini akan merusak Infrastruktur Google.
Yang menurut Nieh, dampaknya bisa merusak layanan seperti Safe Browsing, ChromeOS, proyek open-source Chromium, dan lain sebagainya.
Google menilai usulan DOJ lebih menguntungkan pesaing daripada konsumen. Selama proses persidangan, banyak perusahaan besar disebut hanya ingin mengakses teknologi Google tanpa perlu berinovasi sendiri.
“Selama berminggu-minggu kesaksian, kami mendengar dari berbagai perusahaan besar yang ingin mendapatkan akses ke teknologi Google agar tidak perlu melakukan inovasi sendiri. Yang tidak kami dengar adalah bagaimana usulan ekstrem DOJ ini akan menguntungkan konsumen — padahal itulah inti dari hukum antitrust Amerika,” tutup Mulholland.