Bagikan:

JAKARTA – Pemerintah Inggris akan mengeluarkan peringatan kepada seluruh perusahaan di negara itu agar menjadikan keamanan siber sebagai “prioritas mutlak”. Hal ini dilakukan, menyusul serangkaian serangan siber terhadap beberapa peritel ternama seperti Marks & Spencer (M&S), Co-op Group, dan Harrods.

Menteri Kantor Kabinet Inggris, Pat McFadden, pada  Jumat 2 April memimpin pengarahan bersama pejabat keamanan nasional dan CEO Pusat Keamanan Siber Nasional (NCSC) Richard Horne, membahas dukungan yang diberikan kepada peritel-peritel yang terdampak.

Dalam pidatonya yang direncanakan akan disampaikan pada konferensi CyberUK pekan depan di Manchester, McFadden akan menyebut insiden serangan ini sebagai “panggilan untuk bangun” bagi seluruh dunia usaha.

"Di dunia di mana para penjahat siber yang menargetkan kita tidak pernah berhenti demi mengejar keuntungan – dengan upaya yang dilakukan setiap jam setiap harinya – maka perusahaan-perusahaan harus menjadikan keamanan siber sebagai prioritas mutlak," ujar McFadden, seperti dikutip dari pernyataan kantornya.

Ia juga akan menyoroti langkah-langkah terbaru pemerintah dalam memperkuat pertahanan nasional di bidang siber, termasuk rencana pengesahan legislasi baru yang dinamakan Cyber Security Bill.

Salah satu serangan siber yang menjadi sorotan adalah yang dialami oleh Marks & Spencer, perusahaan ritel ikonik yang telah berdiri selama 141 tahun. M&S menghentikan layanan pemesanan online untuk produk pakaian dan rumah sejak 25 April lalu, setelah mengalami gangguan serius pada layanan pembayaran nirsentuh serta sistem click and collect selama akhir pekan libur Paskah. Hingga kini, belum ada informasi kapan layanan tersebut akan kembali beroperasi.

Menurut situs spesialis teknologi BleepingComputer, yang mengutip berbagai sumber, serangan terhadap M&S diduga merupakan serangan ransomware yang dilakukan oleh kelompok peretas bernama “Scattered Spider”. Serangan ini mengenkripsi server milik M&S dan melumpuhkan berbagai layanan penting perusahaan.

Inggris sendiri telah mengalami gelombang serangan siber dalam beberapa tahun terakhir, yang menargetkan perusahaan swasta, lembaga publik, hingga institusi penting lainnya. Serangan-serangan ini telah menyebabkan kerugian puluhan juta poundsterling dan mengakibatkan gangguan operasional yang bisa berlangsung berbulan-bulan.

Dengan meningkatnya intensitas dan kompleksitas ancaman siber, pemerintah Inggris kini menekankan bahwa kesiapsiagaan dan investasi dalam keamanan digital tidak lagi opsional, melainkan keharusan strategis bagi semua sektor industri.