JAKARTA - Apple dilaporkan tengah bersiap untuk mempercepat produksi iPhone di India secara besar-besaran, dengan target ambisius: hampir semua iPhone 18 yang dijual di Amerika Serikat akan berasal dari India pada akhir 2026. Namun, meski rencana ini terdengar spektakuler, banyak pihak masih meragukan kemungkinannya tercapai.
Selama beberapa tahun terakhir, Apple memang telah memproduksi iPhone di India. Namun, berapa banyak unit dari India yang benar-benar masuk pasar AS masih menjadi perdebatan. Berdasarkan laporan Financial Times yang dirilis Jumat 25 April, angka itu diprediksi akan melonjak drastis dalam 20 bulan ke depan.
Saat ini, India memproduksi sekitar 40 juta iPhone per tahun untuk kebutuhan lokal maupun ekspor, setara dengan kurang dari seperlima total produksi iPhone global. Pada akhir 2023, Apple sempat memasang target untuk menggandakan produksi India menjadi 25% dari produksi global hingga akhir 2024. Target itu nyatanya belum tercapai, dengan capaian produksi hanya sekitar 15% dari permintaan global.
Menurut laporan sebelumnya, Apple berencana meningkatkan pangsa produksi global di India sebesar 10% lagi pada tahun 2025. Namun, bahkan dengan kenaikan ini, angka tersebut masih jauh dari target besar yang diramalkan laporan terbaru.
Untuk bisa memenuhi kebutuhan iPhone di pasar AS, Apple perlu meningkatkan produksi di India sekitar 25 juta unit per tahun — tantangan yang luar biasa berat. Jika ingin mempercepat ekspansi ini, Apple harus menggandakan laju peningkatan produksi yang pernah mereka capai sebelumnya.
Namun, sejumlah kendala besar membayangi rencana ambisius ini. Pertama, Apple harus memastikan kerja sama dari pemerintah China, mengingat banyak mitra produksi seperti Foxconn dan Luxshare berasal dari negeri tersebut.
China dilaporkan pernah menghalangi upaya pemindahan produksi dengan memperlambat pengiriman peralatan produksi ke India tanpa alasan resmi. Bahkan, peralatan produksi yang sudah tiba di India seringkali memiliki kendala teknis, seperti sistem menu yang hanya tersedia dalam bahasa Mandarin.
BACA JUGA:
Selain itu, tantangan lain datang dari regulasi ketenagakerjaan di India. Berbeda dengan China yang memberlakukan dua shift 12 jam, undang-undang ketenagakerjaan di India mengharuskan tiga shift 8 jam, membuat Apple perlu merekrut lebih banyak pekerja. Meskipun Apple berhasil melobi agar sistem shift 12 jam diizinkan, penerapannya masih terhambat oleh keresahan buruh.
Apple juga menghadapi tantangan dalam hal pengadaan komponen berkualitas tinggi di India, yang belum sepenuhnya memenuhi standar ketat perusahaan berbasis di Cupertino tersebut.
Laporan ambisius ini pertama kali diungkap oleh Financial Times dengan mengutip sumber anonim yang disebut "dekat dengan masalah ini". Namun, tanpa rincian lebih lanjut, validitas laporan ini masih menjadi tanda tanya.
Mengingat banyaknya hambatan logistik, regulasi, dan geopolitik yang harus diatasi, banyak analis menilai bahwa target Apple tersebut tampak sangat ambisius, bahkan mungkin terlalu optimistis.
Meskipun begitu, langkah Apple untuk mengurangi ketergantungan pada China tetap menjadi strategi jangka panjang yang realistis, mengingat ketegangan geopolitik yang semakin meningkat dalam beberapa tahun terakhir.