Bagikan:

JAKARTA - Pasar Bitcoin tengah mengalami koreksi harga drastis. Bahkan sempat turun di bawah 80.000 dolar AS (Rp1,31 miliar). Namun, berdasarkan CoinMarketCap, pada Rabu, 12 Maret Bitcoin bertengger di angka 82.000 dolar AS (Rp1,34 miliar).

Melihat fenomena ini, analis kripto dari Reku, Fahmi Almuttaqin, mengatakan bahwa koreksi harga Bitcoin saat ini mungkin menjadi peluang akumulasi bagi investor institusi, khususnya jika Bitcoin dipandang sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian ekonomi.

"Meskipun demikian, altcoin, terutama yang terkait proyek Al atau teknologi, mungkin akan lebih rentan terkoreksi lebih dalam akibat valuasi yang terlalu optimistis dan korelasinya dengan sentimen saham-saham AS di sektor teknologi seperti Nvidia,” jelas Fahmi. 

Fahmi juga menjelaskan bahwa laporan inflasi dan kebijakan fiskal AS akan menjadi katalis utama dalam pergerakan pasar ke depan. 

Menurutnya, dengan hasil pertemuan KTT Kripto Gedung Putih yang belum banyak memberikan katalis positif bagi pasar kripto, kembali ditahannya suku bunga The Fed pada pertemuan 19 Maret pekan depan berpotensi membuat pasar kripto berada pada kondisi yang masih minim katalis positif. 

“Kondisi tersebut dapat membuat tekanan yang ada di pasar saat ini berpotensi berlanjut,” jelasnya lebih lanjut. 

Namun, potensi pergeseran sentimen tetap terbuka, terutama jika Bitcoin semakin diakui sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi. Langkah administrasi Trump yang berupaya melegitimasi Strategic Bitcoin Reserve AS juga akan meningkatkan kepercayaan investor tradisional.

"Bagi investor yang cenderung mengutamakan fundamental suatu aset, dapat berinvestasi di aset kripto yang memiliki kapitalisasi pasar terbesar,” pungkasnya.