JAKARTA - Bitcoin (BTC) masih belum bisa bergerak melawati angka di kisaran 94.000 hingga 100.000 dolar AS (Rp1,52 - 1,62 miliar) sepanjang 14 hari terakhir.
“Pergerakan harga cukup tajam, di mana BTC berpotensi naik ke 105.000 dolar AS (Rp1,7 miliar) jika mampu menembus resistensi psikologis di 100.000 dolar AS (Rp1,62 miliar),” kata Financial Expert Ajaib, Panji Yudha dalam keterangan tertulisnya.
Namun, Panji menambahkan, jika BTC turun di bawah 94.000 dolar AS (Rp1,52 miliar), koreksi lebih lanjut kemungkinan dapat terjadi dengan support berikutnya di sekitar 91.000 dolar AS (Rp1,48 miliar).
Panji menjelaskan bahwa pekan ini, pelaku pasar kripto harus bersiap menghadapi data ekonomi AS yang dapat memicu volatilitas. Apalagi fokus utama tertuju pada risalah FOMC Januari yang dirilis 19 Februari, yang memberikan wawasan terkait kebijakan suku bunga The Fed.
BACA JUGA:
“Pernyataan Jerome Powell yang tidak terburu-buru menurunkan suku bunga, meski ada tekanan dari Donald Trump, semakin diperhatikan pasar,” tambah Panji.
Selain itu, laporan klaim pengangguran awal pada 22 Februari akan menjadi indikator penting. Pekan lalu, angka klaim turun ke 213.000, lebih rendah dari perkiraan.
“Jika angka ini kembali naik, pasar dapat mengantisipasi potensi pemangkasan suku bunga lebih cepat, yang bisa meningkatkan daya tarik Bitcoin sebagai aset alternatif,” tutupnya.