Bagikan:

JAKARTA - Kementerian Komunikasi dan Digital menyambut investor dan perusahaan teknologi Eropa untuk mengeksplorasi peluang kerja sama dan investasi dalam ekosistem komputasi awan dan pembangunan pusat data di Indonesia. 

Menurut Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, peningkatan kebutuhan infrastruktur digital di Indonesia membuat peluang investasi komputasi awan dan pusat data makin berkembang.

Maka dari itu, saat menerima Audiensi Chairman EU-ASEAN Business Council, Jens Rübbert, Nezar menyatakan bahwa pemerintah siap bekerja sama dengan pelaku industri dan pemangku kepentingan untuk menciptakan ekosistem digital yang inklusif dan aman.

“Kami menyambut investor Eropa dan perusahaan teknologi untuk mengeksplorasi peluang dalam ekosistem komputasi awan dan manajemen data Indonesia yang sedang berkembang,” kata Nezar dalam siaran resminya dikutip Kamis, 6 Februari. 

Jens Rübbert turut menyatakan ketertarikan dan komitmen delegasi untuk berinvestasi di Indonesia. Menurutnya, delegasi dari berbagai industri ingin mengetahui isu terkini digitalisasi di Indonesia terkini.

"Kami memiliki 129 delegasi yang mewakili 49 perusahaan dan organisasi yang berbeda. Jadi ini merupakan salah satu delegasi terbesar yang pernah ada dan saya pikir itu menunjukkan minat yang kuat dan juga merupakan komitmen terhadap Indonesia," jelasnya.

Sementara pemerintah terus berupaya mengajak kerja sama beberapa negara untuk membangun infrastruktur data di Tanah Air, baru-baru ini Menkomdigi mengungkapkan bahwa proyek pembangunan Pusat Data Nasional (PDN) di Batam dihentikan. 

Dalam Rapat Kerja bersama Komisi I DPR RI pada Selasa, 4 Februari, Menkomdigi, Meutya Hafid, menyebutkan penghentian pembangunan PDN Batam ini karena pemerintah sudah tidak lagi memperpanjang kontrak dengan Korea Selatan. 

“Data center Batam ini program yang sudah lama, kita ada kontrak kerja sama dengan Korea Selatan, kemudian tidak ada lanjutan. Kami duga karena mungkin kondisi politik di Korea Selatan yang kemarin juga sempat turbulensi, sehingga kita sesungguhnya kehilangan dua tahun tidak membangun apa-apa,” ujar Meutya. 

Karena sudah menghabiskan waktu sia-sia selama dua tahun dan tidak ada pembangunan, akhirnya Meutya sebagai Menkomdigi yang baru memutuskan untuk tidak memperpanjang kontrak tersebut. 

“Ini very costly. Kita kehilangan momentum membangun sebuah data center besar. Jadi kami putuskan, sebagai Menkomdigi, meskipun Korea Selatan appeal untuk diperpanjang lagi, tapi karena sudah dua tahun, akhirnya kontrak itu tidak dilanjutkan,” pungkasnya.