Bagikan:

JAKARTA - Paguyuban Alumni Ilmu Komunikasi UGM (Publikom Gama) menyerukan perlunya ”kedaulatan komunikasi” sebagai tameng utama Indonesia di era Prabowo-Gibran, secara langsung kepada Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria. 

Ketua Umum Publikom Gama Agus Sudibyo menegaskan bahwa arus informasi dan komunikasi harus berpijak pada nilai-nilai demokrasi, good governance, serta etika publik.

Maka dari itu, Publikom Gama menekankan pentingnya penerapan hukum positif Indonesia seperti UU Pers, UU Penyiaran, UU Perlindungan Data Pribadi, serta Perpres Tanggung Jawab Perusahaan Platform Digital untuk Mendukung Jurnalisme Berkualitas (Publisher Right) guna melindungi ekosistem media dan informasi nasional.

Menurut Agus, pemerintah harus memastikan arus data nasional tetap berada dalam kendali pemerintah. Infrastruktur digital seperti pusat data, jaringan internet, dan teknologi komunikasi harus dikuasai secara mandiri.

Sementara itu, dalam menghadapi revolusi kecerdasan buatan (AI), Publikom Gama mengingatkan, teknologi ini bisa menjadi pedang bermata dua, yang dimana tanpa literasi, AI akan mengancam keamanan privasi penggunanya.

”AI adalah pedang bermata dua. Tanpa literasi yang memadai, kita bisa terjebak dalam jerat algoritma yang mengancam privasi, menyebarkan hoaks, hingga melumpuhkan industri kreatif lokal,” kata Ketua Dewan Pertimbangan Organisasi Publikom Gama Imam Wahyudi dalam siaran resminya.

Sebagai solusinya, Publikom Gama mendorong pemerintah untuk segera menerbitkan panduan AI yang praktis dan aplikatif bagi mahasiswa, wartawan, peneliti, dan kreator konten.

Wamenkomdigi Nezar pun menyambut baik rekomendasi tersebut. Ia menyatakan, Kementerian Komdigi akan melakukan peninjauan lebih lanjut untuk diintegrasikan ke dalam kebijakan nasional. 

Menurut Nezar, masukan dari Publikom Gama datang di saat yang tepat, di kala Pemerintah memang sedang konsen dengan isu kedaulatan digital. 

”Masukan dari akademisi dan praktisi seperti Publikom Gama sangat berharga dalam membangun regulasi yang adaptif dan berorientasi pada kepentingan publik,” ujar Nezar.