Ilmuwan Kembangkan Tes Darah yang Bisa Diagnosa Depresi, Bikin Kamu Mudah Mengenali Gangguan Mental
Ilustrasi depresi (Photo by Sasha Freemind on Unsplash)

Bagikan:

JAKARTA - Gangguan mental seperti depresi dan kecemasan berlebih adalah sesuatu yang nyata. Terlepas dari lingkungan maupun komunitas yang belum bisa menerima kelainan ini.

Memang, topik terkait kesehatan mental merupakan hal yang baru. Belum ada satu dekade sejak para ahli kesehatan menjadikannya sebagai fokus diskusi serta penelitian.

Kini, terutama di Indonesia, topik terkait kesehatan mental makin sering disampaikan. Contohnya seperti keributan di Twitter akibat ungkapan Deddy Corbuzier dan Luna Maya yang dianggap kurang aware dan perhatian terhadap penderita gangguan mental.

Memang, kedua publik figur tersebut sudah meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi. Masalah selesai. Tapi, satu hal yang bisa kita simpulkan. Kesadaran masyarakat, terutama netizen, terhadap gangguan mental makin besar.

Beruntungnya, ke depan masyarakat bisa lebih mudah mengenali penderita gangguan mental. Pasalnya, ilmuwan berhasil mengembangkan tes darah yang mampu mendiagnosa depresi. Yang mengagumkan, tes tersebut memiliki tingkat akurasi cukup tinggi!

Tes Darah untuk Diagnosa Gangguan Mental Depresi

Baru-baru ini, sekelompok peneliti dari Indiana University School of Medicine menerbitkan penelitian berjudul “Precision medicine for mood disorders: objective assessment, risk prediction, pharmacogenomics, and repurposed drugs”.

Dalam penelitian yang diterbitkan Jurnal Nature tersebut, peneliti menemukan bahwa diagnosa kesehatan mental bisa dilakukan dengan metode tes darah. Bahkan, dari tes tersebut, peneliti bisa menentukan tingkatan depresi seseorang.

“Secara keseluruhan, penelitian kami menyediakan penilaian objektif, terapi tertarget, serta pengawasan respon terhadap perawatan, sehingga mampu memberikan obat yang tepat bagi penderita gangguan mood,” tulis pemimpin penelitian Alexander Niculescu.

Mengutip keterangan yang disajikan pada jurnal, penelitian tersebut memakan waktu selama empat tahun. Dan selama itu pula para peneliti mengamati perilaku maupun kebiasaan dari 300 subyek partisipan yang terlibat.

Memang, dalam hal jumlah, angka 300 mungkin terbilang kecil. Tapi, jika mempertimbangkan lama waktu pengambilan data, temuan tersebut cukup bernilai.

Ilustrasi tes darah (Mashable)

Selama proses penelitian, ilmuwan mengamati partisipan yang dibagi dalam dua kelompok berbeda. Yakni kelompok dengan gangguan mood rendah dan tinggi. Tak hanya itu, peneliti juga mengumpulkan data berupa tanda medis atau gejala –yang disebut dengan istilah Biomarker.

Tanda tersebut didapatkan para peneliti lewat darah subyek. Kemudian, peneliti pun membandingkan contoh yang tersedia dengan informasi terkait kesehatan mental yang sudah disimpan dalam pusat data.

Hasilnya, para peneliti menemukan adanya 26 biomarker pada seseorang yang didiagnosa menderita depresi parah. Keberhasilan para peneliti dalam mengidentifikasi pola tersebut memberi harapan baru atas pengobatan yang tepat bagi para penderita depresi.

Pasalnya, saat ini, pengobatan depresi masih terjebak dalam praktik yang penuh trial-and error. Seringkali, pengobatan malah bikin pasien terjebak dalam pengaruh obat anti-depresan. Soalnya, setiap individu menunjukan respon yang berbeda terhadap obat.

“Kami ingin mengembangkan tes darah untuk depresi dan gangguan bipolar. Untuk membedakan keduanya, dan untuk memberikan perawatan yang tepat bagi penderita,” tulis Alexander.